Piala Jusuf menjadi fondasi awal, El Tari Cup lahir sebagai simbol persatuan, dan El Tari Memorial Cup menjelma menjadi panggung rivalitas sepak bola paling bergengsi di Nusa Tenggara Timur. Namun, di tengah transformasi menuju Liga 4, mampukah warisan sejarah ini tetap menjaga marwah sepak bola Flobamora?
OBED GERIMU,- Kupang
SEJARAH sepak bola Nusa Tenggara Timur (NTT) bukan sekadar cerita tentang kemenangan, kekalahan, perebutan trofi, atau rivalitas antarkabupaten. Di balik gegap gempita El Tari Memorial Cup (ETMC), tersimpan sebuah perjalanan panjang tentang persaudaraan, perjuangan menembus sekat primordial, serta upaya membangun identitas bersama masyarakat Flobamora melalui sepak bola.
Turnamen yang kini dikenal sebagai El Tari Memorial Cup itu tidak lahir begitu saja. Jejak historisnya berakar dari sebuah kompetisi sepak bola bernama Piala Jusuf yang digelar pada 1964, sebelum kemudian menginspirasi Gubernur NTT kedua, Mayor Jenderal TNI (Anumerta) Elias Tari atau yang lebih dikenal dengan nama El Tari, untuk membangun sebuah kompetisi sepak bola antarkabupaten yang lebih besar dan inklusif.
Dari Piala Jusuf, lahirlah El Tari Cup. Setelah sang penggagas wafat, nama kompetisi itu kemudian diabadikan menjadi El Tari Memorial Cup. Seiring perkembangan zaman dan regulasi sepak bola nasional, ETMC pun mengalami transformasi dari turnamen tradisional antardaerah menjadi bagian dari sistem kompetisi resmi PSSI.
Kini, menjelang pelaksanaan ETMC XXXV di Kabupaten Flores Timur, perjalanan panjang tersebut kembali menjadi sorotan. Sebab, di tengah perubahan regulasi dan pemisahan jalur kompetisi, muncul pertanyaan besar mengenai masa depan turnamen legendaris yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah sepak bola NTT.
Piala Jusuf, Fondasi Awal Sepak Bola Pemersatu NTT
Jauh sebelum El Tari Cup dikenal luas sebagai turnamen sepak bola antarkabupaten di NTT, masyarakat telah mengenal Piala Jusuf.
Kompetisi yang digelar pada 1964 itu merupakan salah satu tonggak penting dalam perkembangan sepak bola di kawasan Indonesia Timur. Nama Piala Jusuf diambil dari Jenderal TNI (Purn.) Andi Muhammad Jusuf Amir atau M. Jusuf, yang ketika itu menjabat sebagai Panglima Kodam XIV/Hasanuddin.
Pada masa tersebut, wilayah teritorial Kodam XIV/Hasanuddin mencakup sejumlah kawasan di Indonesia Timur, termasuk Nusa Tenggara.
Piala Jusuf menjadi ruang pertemuan bagi klub-klub dan masyarakat dari berbagai daerah. Sepak bola tidak hanya dipandang sebagai olahraga, tetapi juga sebagai sarana membangun persaudaraan, mencairkan perbedaan, dan memperkuat semangat kebangsaan.
Gagasan tersebut menjadi penting di tengah situasi politik dan sosial Indonesia pada era 1960-an yang penuh dinamika.
Sepak bola menawarkan ruang yang memungkinkan masyarakat dari latar belakang suku, agama, dan wilayah berbeda bertemu dalam satu tujuan. Di atas lapangan, rivalitas menjadi bagian dari pertandingan, tetapi persaudaraan tetap menjadi fondasi.
Semarak Piala Jusuf di kawasan Indonesia Timur kemudian memberikan inspirasi bagi perkembangan sepak bola di NTT.
Gubernur El Tari melihat bahwa kompetisi antardaerah dapat menjadi instrumen efektif untuk membangun kebersamaan masyarakat di provinsi kepulauan yang memiliki keragaman budaya, bahasa, dan identitas lokal. Dari sinilah gagasan besar El Tari mulai menemukan bentuknya.
El Tari, Gubernur yang Menjadikan Sepak Bola sebagai Alat Persatuan
Mayor Jenderal TNI (Anumerta) Elias Tari menjabat sebagai Gubernur NTT menggantikan W.J. Lalamentik pada 1966.
Dalam kepemimpinannya, El Tari tidak hanya berhadapan dengan tantangan pembangunan ekonomi dan pemerintahan, tetapi juga persoalan keterisolasian wilayah serta kuatnya ikatan primordial masyarakat di berbagai pulau.
Ia memahami bahwa pembangunan NTT tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan administratif. Dibutuhkan ruang sosial yang mampu mempertemukan masyarakat dari berbagai kabupaten dan pulau dalam semangat yang sama.
Sepak bola menjadi salah satu jawabannya.
Terinspirasi dari semarak Piala Jusuf, El Tari kemudian mengembangkan gagasan kompetisi sepak bola antarkabupaten yang lebih terstruktur dan melibatkan masyarakat secara luas.
Langkahnya tidak berhenti pada pembentukan turnamen di ibu kota provinsi.
El Tari melakukan safari ke berbagai desa, mengajak masyarakat, tokoh lokal, dan kaum muda untuk terlibat dalam kegiatan olahraga. Ia mendorong pembentukan klub-klub sepak bola sebagai wadah pembinaan sekaligus sarana membangun kebersamaan.
Pendekatan tersebut memiliki makna mendalam.
NTT merupakan wilayah kepulauan dengan karakter masyarakat yang beragam. Flores, Timor, Sumba, Alor, Lembata, Rote, dan pulau-pulau lainnya memiliki identitas budaya masing-masing.
Melalui sepak bola, El Tari berupaya membangun sebuah identitas bersama: masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Sepak bola dijadikan media untuk menembus batas-batas primordial. Setiap daerah memiliki kesempatan menunjukkan kemampuan, sementara seluruh masyarakat dipersatukan oleh semangat kompetisi yang sehat.
Pada 1969, El Tari Cup resmi bergulir untuk pertama kalinya.
Perseftim Flores Timur tampil sebagai juara perdana, sekaligus menorehkan tinta emas dalam sejarah sepak bola NTT.
Gelar tersebut bukan sekadar kemenangan sebuah tim. Ia menjadi simbol keberhasilan sebuah gagasan besar yang menjadikan sepak bola sebagai sarana pemersatu masyarakat Flobamora.
Perseftim Flores Timur, Sang Pionir yang Mengukir Sejarah
Nama Perseftim Flores Timur memiliki tempat istimewa dalam perjalanan ETMC.
Sebagai juara perdana El Tari Cup, Perseftim menjadi tim pertama yang mengangkat trofi kompetisi yang digagas langsung oleh Gubernur El Tari.
Pada masa itu, wilayah administratif Flores Timur masih mencakup kawasan yang kini menjadi Kabupaten Lembata. Karena itu, keberhasilan Perseftim merepresentasikan kebanggaan masyarakat Flores Timur, Adonara, Solor, dan Lembata dalam satu kesatuan wilayah sepak bola.
Kemenangan tersebut menjadi fondasi romantisme sepak bola Flores Timur yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Perseftim tidak hanya dikenang sebagai klub yang pernah menjadi juara. Lebih dari itu, klub ini merupakan bagian dari identitas sejarah kompetisi ETMC.
Trofi perdana yang diangkat Perseftim menjadi simbol perjalanan awal sepak bola antarkabupaten di NTT.
Dalam momentum ETMC XXXV, nilai historis tersebut kembali mendapatkan perhatian. Trofi asli El Tari Cup berbahan tembaga yang menjadi saksi sejarah edisi perdana kembali dihadirkan dalam rangkaian kegiatan di Flores Timur.
Kehadirannya menjadi pengingat bahwa ETMC bukan sekadar kompetisi yang mengejar gelar juara, tetapi juga sebuah warisan sejarah yang memiliki nilai kebanggaan bagi masyarakat NTT.
Dari El Tari Cup Menjadi El Tari Memorial Cup
Perjalanan El Tari Cup memasuki babak baru setelah sang penggagas wafat pada 29 April 1978.
Kepergian El Tari meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat NTT. Jasanya dalam membangun persatuan melalui sepak bola menjadi salah satu warisan yang terus dikenang.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap dedikasi dan perjuangannya, nama El Tari Cup kemudian diabadikan menjadi El Tari Memorial Cup pada 1979.
PSK Kupang, yang kini dikenal sebagai PS Kabupaten Kupang, tercatat sebagai juara pada edisi 1979.
Perubahan nama tersebut bukan sekadar formalitas. Ia menjadi penegasan bahwa turnamen ini memiliki nilai historis yang melampaui kepentingan pertandingan.
ETMC menjadi simbol penghormatan kepada seorang pemimpin yang melihat sepak bola sebagai bagian dari pembangunan sosial masyarakat.
Sejak saat itu, ETMC berkembang menjadi salah satu kompetisi sepak bola paling bergengsi di NTT.
Rivalitas antarkabupaten semakin kuat. Setiap daerah berlomba membangun tim terbaik untuk merebut supremasi sepak bola Flobamora.
Turnamen ini melahirkan pemain-pemain legendaris, klub-klub bersejarah, serta kenangan yang melekat kuat dalam ingatan masyarakat.
PSN Ngada, PSK Kupang, dan Perseftim dalam Peta Supremasi ETMC
Seiring perjalanan panjangnya, ETMC melahirkan sejumlah klub yang menjadi kekuatan dominan dalam sejarah sepak bola NTT.
PSN Ngada tercatat sebagai salah satu penguasa utama dengan koleksi sembilan gelar juara berdasarkan catatan yang tersedia. Tim berjuluk Laskar Jaramasi ini berhasil menorehkan prestasi pada 1970, 1982, 1986, 1997, 2001, 2003, 2007, 2023, dan 2025.
Dominasi PSN Ngada menunjukkan konsistensi sebuah tim dalam melewati berbagai generasi dan perubahan kompetisi.
PSK Kabupaten Kupang juga memiliki sejarah kejayaan yang kuat. Klub ini mencatat enam gelar juara, yakni pada 1972, 1979, 1988, 1991, 1993, dan 1995.
Pada era 1980-an hingga pertengahan 1990-an, PSK Kupang menjadi salah satu kekuatan yang sangat disegani dalam kompetisi sepak bola NTT.
Sementara itu, Perseftim Flores Timur tetap memiliki status historis sebagai juara perdana.
Perse Ende, Persami Maumere, Persekota Kupang, PS Malaka, Persamba Manggarai Barat, Persada Sumba Barat Daya, dan klub-klub lainnya turut mewarnai perjalanan kompetisi.
Setiap gelar juara memiliki cerita tersendiri. Setiap pertandingan menghadirkan rivalitas yang tidak hanya berlangsung di lapangan, tetapi juga menjadi bagian dari kebanggaan masyarakat daerah.
ETMC akhirnya tumbuh sebagai panggung yang menyatukan sejarah, identitas, dan kecintaan masyarakat NTT terhadap sepak bola.
Transformasi ETMC, dari Turnamen Daerah Menjadi Kompetisi Resmi PSSI
Perkembangan sepak bola nasional membawa ETMC memasuki fase transformasi yang lebih besar. Jika pada masa awal ETMC merupakan kompetisi tradisional antarkabupaten, maka sejak 2017 turnamen ini semakin terintegrasi dengan sistem kompetisi resmi PSSI melalui Liga 3 tingkat provinsi.
Perubahan tersebut membawa konsekuensi terhadap format, regulasi, dan tujuan kompetisi.
ETMC tidak lagi hanya menjadi ajang perebutan supremasi sepak bola antarkabupaten, tetapi juga menjadi bagian dari jalur kompetisi menuju tingkat nasional.
Klub yang berhasil meraih prestasi terbaik memiliki peluang untuk mewakili NTT pada kompetisi nasional sesuai regulasi PSSI.
Transformasi ini membuka ruang bagi perkembangan klub dan pembinaan pemain yang lebih kompetitif.
Pada fase berikutnya, keikutsertaan klub-klub mandiri dan swasta semakin memperluas ekosistem sepak bola NTT.
Klub seperti Bintang Timur Atambua FC, Flores United, Nirwana 04, Tiara Nusa, Platina FC, Bajak Laut, Citra Bakti Ngada, BMP Flotim, BMU Alor Pantar, dan Kristal FC menjadi bagian dari dinamika baru sepak bola daerah.
Kehadiran klub-klub tersebut memperlihatkan bahwa sepak bola NTT tidak lagi hanya bertumpu pada tim-tim Perserikatan yang merepresentasikan pemerintah kabupaten atau kota.
Sepak bola mulai berkembang sebagai ekosistem yang lebih terbuka, melibatkan berbagai pihak dalam pembinaan pemain, pengelolaan klub, dan kompetisi.
Perubahan dari Liga 3 menuju Liga 4 mengikuti restrukturisasi piramida kompetisi nasional PSSI. ETMC pun berada di tengah dinamika tersebut.
ETMC XXXV dan Persoalan Pemisahan Jalur Kompetisi
Menjelang ETMC XXXV di Kabupaten Flores Timur, sejarah panjang turnamen ini kembali berhadapan dengan dinamika regulasi sepak bola nasional.
Beredar informasi bahwa ETMC XXXV akan tetap digelar sebagai turnamen tradisional antarkabupaten, tetapi tidak digabungkan dengan kompetisi Liga 4 Provinsi NTT.
Pemisahan tersebut berkaitan dengan penyesuaian regulasi Liga 4 yang masih menunggu ketentuan terbaru dari PSSI Pusat.
Dalam skema yang berkembang, ETMC tetap mempertahankan format kompetisi antardaerah. Sementara itu, Liga 4 NTT akan menjadi jalur kompetisi resmi antarklub untuk menentukan wakil NTT menuju putaran nasional.
Konsekuensinya, gelar juara ETMC tidak secara otomatis menjadi tiket bagi sebuah tim untuk mewakili NTT di kompetisi nasional.
Keterwakilan klub NTT pada Liga 4 Nasional nantinya harus melalui kompetisi Liga 4 tingkat provinsi yang diselenggarakan Asprov PSSI NTT, sesuai regulasi resmi yang berlaku.
Situasi ini menimbulkan dinamika tersendiri.
Di satu sisi, pemisahan kompetisi dapat memberikan ruang bagi ETMC untuk mempertahankan karakter tradisionalnya sebagai turnamen antarkabupaten.
Namun, di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa ETMC akan kehilangan salah satu daya tarik historisnya, yakni kesempatan bagi tim terbaik daerah untuk membawa nama NTT ke panggung nasional.
Selama bertahun-tahun, ETMC bukan hanya menjadi ajang perebutan piala. Kompetisi ini juga menjadi pintu bagi pemain-pemain NTT untuk menunjukkan kualitas mereka di tingkat yang lebih tinggi.
Karena itu, perubahan format perlu mempertimbangkan keseimbangan antara pelestarian sejarah dan kebutuhan modernisasi kompetisi.
Menjaga Warisan El Tari di Tengah Perubahan Sepak Bola
ETMC XXXV yang akan digelar di Flores Timur menjadi momentum penting untuk kembali melihat sejarah panjang sepak bola NTT.
Turnamen ini lahir dari semangat persatuan yang berakar pada Piala Jusuf, kemudian dikembangkan oleh El Tari menjadi kompetisi antarkabupaten yang melibatkan seluruh masyarakat.
Setelah sang penggagas wafat, nama El Tari Memorial Cup menjadi simbol penghormatan abadi terhadap jasa seorang pemimpin yang menjadikan sepak bola sebagai instrumen persatuan.
Dalam perjalanannya, ETMC mengalami berbagai perubahan. Dari turnamen tradisional, menjadi kompetisi resmi PSSI, terintegrasi dengan Liga 3, hingga menghadapi transformasi menuju Liga 4.
Perubahan tersebut merupakan bagian dari perkembangan sepak bola modern.
Namun, satu hal yang tidak boleh hilang adalah nilai historis dan semangat persatuan yang menjadi fondasi kelahirannya.
ETMC bukan sekadar kompetisi untuk menentukan siapa yang terbaik di NTT. Ia adalah ruang pertemuan masyarakat dari berbagai pulau, daerah, suku, dan latar belakang.
Di dalamnya terdapat cerita tentang kebanggaan daerah, perjuangan pemain, loyalitas suporter, serta persaudaraan yang melampaui rivalitas.
Karena itu, transformasi ETMC harus tetap berpijak pada sejarah.
Modernisasi kompetisi tidak seharusnya menghapus identitasnya. Sebaliknya, regulasi baru harus mampu memperkuat pembinaan sepak bola, membuka peluang bagi klub-klub daerah, sekaligus menjaga ETMC sebagai warisan olahraga yang memiliki nilai historis bagi masyarakat Flobamora.
Dari Piala Jusuf pada 1964, El Tari Cup pada 1969, hingga El Tari Memorial Cup yang terus berkembang, sepak bola NTT telah membuktikan bahwa sebuah turnamen dapat menjadi lebih dari sekadar pertandingan.
Ia dapat menjadi sejarah. Ia dapat menjadi identitas. Dan ia dapat menjadi perekat persaudaraan masyarakat Nusa Tenggara Timur.
ETMC boleh bertransformasi mengikuti zaman. Namun, semangat El Tari untuk menyatukan Flobamora melalui sepak bola harus tetap hidup. (*)












