KUPANG, PENATIMOR – Tidak hanya menghidupkan kompetisi dan mengantarkan klub-klub Nusa Tenggara Timur (NTT) menembus panggung sepak bola nasional, kepemimpinan Petrus Christian Mboeik bersama Ridwan Sujana Angsar di PSSI NTT juga mencatat satu perubahan penting dalam struktur organisasi yaitu memperluas jumlah klub dan perserikatan anggota dari sebelumnya 25 menjadi 35 anggota tetap.
Penambahan 10 anggota baru selama empat tahun kepengurusan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kesempatan bagi klub-klub sepak bola mandiri untuk berkembang, sekaligus membuka ruang kompetisi bagi talenta-talenta muda yang selama ini belum seluruhnya terakomodasi dalam klub-klub perserikatan.
Langkah ini menjadi salah satu catatan penting perjalanan kepemimpinan Chris Mboeik. Sebab, membangun sepak bola daerah tidak cukup hanya dengan menyelenggarakan turnamen, tetapi juga membutuhkan perluasan basis organisasi, penambahan klub peserta, serta pembukaan kesempatan bagi potensi sepak bola di berbagai wilayah NTT.
Ketika awal kepengurusan Chris Mboeik dan Ridwan Angsar dilantik, struktur keanggotaan PSSI NTT terdiri dari 22 perserikatan dan tiga klub, yakni Kristal FC, Bintang Timur Atambua, serta Putra Oesao. Dengan demikian, total anggota saat itu berjumlah 25.
Namun, dalam perjalanan empat tahun kepemimpinan, jumlah tersebut terus bertambah melalui proses penerimaan klub-klub baru secara bertahap.
Tahun pertama, dua calon anggota ditetapkan, yakni Platina FC Kota Kupang dan Nirwana 04 Nagekeo.
Tahun kedua, keanggotaan bertambah dengan masuknya Biru Muda Perkasa (BMP) Flores Timur, Bara Mauwolang Uma Alor Pantar Football Club (BMU Alor Pantar FC), Citra Bakti Ngada (CBN).
Tahun ketiga, empat klub kembali bergabung, yakni Tiara Nusa, Flores United, Bajak Laut, dan Sergio Malaka.
Tahun keempat, Lombein United Lembata menjadi klub berikutnya yang masuk dalam struktur keanggotaan.
Dengan penambahan tersebut, saat ini PSSI NTT memiliki 35 anggota tetap.
Pertumbuhan dari 25 menjadi 35 anggota ini memperlihatkan adanya perluasan basis keanggotaan sepak bola NTT selama periode kepemimpinan Chris Mboeik dan Ridwan Angsar.
Membuka Jalan bagi Klub Mandiri dan Talenta Muda
Di balik penambahan jumlah anggota tersebut, terdapat pertimbangan penting mengenai kondisi dan kebutuhan perkembangan sepak bola di NTT.
Selama ini, banyak talenta muda di berbagai kabupaten dan kota memiliki kemampuan serta potensi untuk berkembang, tetapi tidak semuanya mendapatkan kesempatan bergabung dan berkompetisi melalui klub-klub perserikatan yang sudah ada.
Keterbatasan wadah kompetisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu dijawab oleh organisasi sepak bola.
Karena itu, kebijakan membuka ruang bagi klub-klub mandiri menjadi salah satu pendekatan yang ditempuh dalam kepemimpinan Chris Mboeik bersama Ridwan Angsar.
Berdasarkan catatan perjalanan organisasi, gagasan pembentukan klub mandiri juga muncul dari usulan PSSI kabupaten atau yang sebelumnya dikenal dengan ASKAB.
Melalui pendekatan tersebut, klub-klub yang tumbuh di daerah diberikan kesempatan untuk berkembang dan menjadi bagian dari ekosistem sepak bola NTT.
Memang, persyaratan untuk menjadi anggota PSSI bukan perkara mudah, terutama bagi klub-klub yang baru tumbuh di tengah keterbatasan fasilitas, sumber daya manusia, dan kemampuan finansial di daerah.
Namun, pertimbangan untuk memberikan ruang kepada talenta-talenta muda menjadi salah satu alasan penting dalam kebijakan tersebut.
Kepemimpinan Chris Mboeik dan Ridwan Angsar mengambil pendekatan dengan memberikan ruang dan pertimbangan khusus terhadap klub-klub yang sedang bertumbuh, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk berkembang di wilayah masing-masing.
Kebijakan tersebut bukan berarti mengabaikan pentingnya persyaratan organisasi. Sebaliknya, terdapat kebutuhan untuk menyeimbangkan tata kelola keanggotaan dengan realitas perkembangan sepak bola di daerah.
Sebab, apabila kesempatan berkompetisi hanya bertumpu pada klub-klub perserikatan yang sudah lama berdiri, potensi pemain muda dari berbagai wilayah bisa saja tidak mendapatkan ruang yang cukup.
Klub Mandiri Harus Menjadi Kekuatan Baru Sepak Bola NTT
Pertumbuhan klub mandiri juga memiliki kaitan erat dengan pengembangan kompetisi, khususnya Liga 4.
Selama ini, kompetisi sepak bola NTT lebih banyak bertumpu pada klub-klub yang berasal dari perserikatan. Padahal, perkembangan sepak bola modern membutuhkan semakin banyak klub yang memiliki manajemen, pembinaan pemain, serta kemampuan berkompetisi secara mandiri.
Karena itu, pertumbuhan klub mandiri perlu terus didorong agar kompetisi di NTT semakin terbuka dan memiliki basis peserta yang lebih luas.
Dengan bertambahnya klub, peluang pemain muda untuk mendapatkan jam bertanding juga semakin besar. Selain itu, setiap daerah memiliki kesempatan membangun identitas sepak bolanya sendiri melalui klub yang tumbuh dan berkembang di wilayah tersebut.
Keberadaan klub mandiri juga membuka peluang lahirnya kekuatan-kekuatan baru yang suatu saat mampu bersaing di tingkat nasional.
Perkembangan PSN Ngada saat ini menjadi salah satu gambaran bahwa klub-klub di NTT memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh hingga level nasional.
Sementara itu, Persebata Lembata juga menjadi contoh perjalanan klub daerah yang mampu menembus persaingan nasional hingga mendapatkan tiket promosi ke Liga 3.
Ke depan, bukan tidak mungkin akan muncul lebih banyak klub mandiri dari berbagai kabupaten dan kota yang mampu mengikuti jejak tersebut.
Perluasan Anggota, Investasi Jangka Panjang Sepak Bola NTT
Jika dicermati, penambahan 10 anggota baru selama empat tahun bukan sekadar perubahan angka dalam administrasi organisasi.
Lebih dari itu, kebijakan tersebut menyentuh persoalan mendasar dalam pembangunan sepak bola, yakni bagaimana memperluas kesempatan, memperbanyak wadah pembinaan, dan memberikan ruang kepada talenta muda untuk berkembang.
Semakin banyak klub yang tumbuh, semakin besar pula peluang terciptanya kompetisi yang sehat dan berjenjang.
Hal ini menjadi semakin penting menjelang pelaksanaan PON 2028, ketika NTT bersama NTB dipercaya menjadi tuan rumah pesta olahraga terbesar di Indonesia.
Kebutuhan terhadap pemain berkualitas, klub yang kompetitif, pelatih berpengalaman, serta ekosistem sepak bola yang kuat tentu tidak bisa dibangun secara instan.
Dibutuhkan proses panjang, termasuk memperluas keanggotaan dan memberi kesempatan kepada klub-klub baru untuk tumbuh.
Dalam konteks itulah, perluasan keanggotaan PSSI NTT dari 25 menjadi 35 anggota tetap menjadi salah satu catatan tersendiri dari perjalanan kepemimpinan Chris Mboeik bersama Ridwan Angsar.
Selain prestasi kompetisi dan pembinaan, perubahan struktur keanggotaan ini memperlihatkan bahwa pengembangan sepak bola NTT juga diarahkan pada perluasan basis organisasi.
Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh anggota baru tersebut terus berkembang, memenuhi tata kelola organisasi, membangun pembinaan usia dini, serta berkontribusi dalam kompetisi resmi PSSI.
Sebab, semakin banyak klub yang tumbuh dan semakin luas kesempatan bagi pemain muda untuk berkompetisi, semakin besar pula potensi sepak bola NTT untuk melahirkan kekuatan-kekuatan baru di masa depan.
Rekam Jejak Jadi Modal Melanjutkan Kepemimpinan
Dengan capaian memperluas keanggotaan dari 25 menjadi 35 anggota tetap, membuka ruang bagi klub-klub mandiri, serta memberikan kesempatan lebih luas kepada talenta muda di berbagai daerah, Chris Mboeik memiliki rekam jejak tersendiri dalam membangun fondasi sepak bola NTT.
Pencapaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kepemimpinannya tidak hanya berorientasi pada penyelenggaraan kompetisi, tetapi juga pada perluasan dan penguatan ekosistem sepak bola hingga ke tingkat daerah.
Atas dasar itu, Chris Mboeik dinilai memiliki modal pengalaman dan rekam jejak yang kuat untuk melanjutkan kepemimpinan Asprov PSSI NTT periode 2026–2030.
Keberlanjutan program yang telah dibangun selama empat tahun terakhir menjadi salah satu pertimbangan penting, terutama dalam menghadapi tantangan yang lebih besar, termasuk persiapan NTT bersama NTB sebagai tuan rumah PON 2028.
Melanjutkan kepemimpinan bukan semata-mata mempertahankan posisi, melainkan memastikan fondasi yang telah dibangun dapat terus dikembangkan, klub-klub mandiri semakin kuat, kompetisi semakin berkualitas, dan semakin banyak talenta muda NTT memperoleh kesempatan untuk berkembang hingga ke level nasional. (bet)












