Universitas Uyelindo Latih Guru PAUD MRC Membuat Bahan Ajar Multimedia Edukatif

KUPANG, PENATIMOR – Transformasi pendidikan tidak hanya dimulai dari ruang kuliah atau sekolah-sekolah besar, tetapi juga dari ruang belajar pendidikan anak usia dini (PAUD).

Menyadari pentingnya kesiapan guru menghadapi era digital, dosen dan mahasiswa Universitas Uyelindo Kupang turun langsung membekali para guru PAUD Margherita Ricci Curbastro (MRC) Osiloa dengan keterampilan membuat bahan ajar berbasis multimedia edukatif.

Langkah ini menjadi ikhtiar nyata mencetak tenaga pendidik yang kreatif, adaptif, sekaligus mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan bagi generasi emas Indonesia sejak usia dini.

Sebanyak 11 guru PAUD Margherita Ricci Curbastro yang terdiri dari delapan orang suster dan tiga guru awam mengikuti pelatihan pembuatan bahan ajar berbasis multimedia pada Sabtu, 1 Agustus 2026.

Kegiatan berlangsung penuh antusias karena seluruh peserta tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga praktik langsung merancang media pembelajaran digital yang siap digunakan dalam proses belajar mengajar.

Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Skema Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP) dengan mengusung tema “Pemberdayaan Kelompok Guru PAUD melalui Implementasi Multimedia Edukatif Berbasis Teknologi Informasi.”

BERSAMA – Tim dosen dan mahasiswa Universitas Uyelindo berfoto bersama para guru PAUD Margherita Ricci Curbastro Osiloa usai pelatihan pembuatan bahan ajar berbasis multimedia edukatif di Kupang, Sabtu (1/8/2026). (Foto: Dok Universitas Uyelindo)

Program ini menjadi salah satu bentuk nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, di mana dosen dan mahasiswa hadir memberikan solusi terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini melalui pemanfaatan teknologi informasi.

Tim pengabdian yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Universitas Uyelindo menghadirkan pelatihan penggunaan aplikasi Canva sebagai media untuk menyusun bahan ajar digital yang menarik, interaktif, dan mudah dipahami anak-anak.

Canva dipilih karena memiliki antarmuka yang sederhana, mudah dioperasikan, serta menyediakan beragam template, ilustrasi, animasi, ikon, gambar, hingga elemen visual yang dapat dimanfaatkan guru untuk menciptakan media pembelajaran yang lebih hidup dan menyenangkan.

Selama pelatihan, peserta diperkenalkan mulai dari fitur-fitur dasar Canva, teknik memilih desain yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini, penggunaan warna yang ramah anak, pengaturan tipografi, penyusunan gambar edukatif, hingga pembuatan lembar aktivitas belajar yang menarik.

Tidak hanya itu, para peserta juga diajak memahami bagaimana menyusun media pembelajaran yang mampu merangsang kemampuan motorik, kognitif, bahasa, sosial, emosional, dan kreativitas anak melalui pendekatan visual yang komunikatif.

Pelaksanaan kegiatan dikemas dalam suasana interaktif. Setelah menerima penjelasan materi, setiap guru langsung mempraktikkan pembuatan bahan ajar dengan pendampingan intensif dari dosen dan mahasiswa sehingga setiap peserta mampu menghasilkan karya multimedia secara mandiri.

Ketua Tim Pengabdian Universitas Uyelindo, Benyamin Jago Belalawe, mengatakan perkembangan teknologi informasi telah mengubah wajah pendidikan. Oleh karena itu, guru PAUD perlu dibekali kemampuan memanfaatkan teknologi agar proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan sesuai dengan perkembangan zaman.

“Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru PAUD dalam memanfaatkan teknologi informasi sebagai media pembelajaran. Kami ingin para guru mampu membuat bahan ajar multimedia secara mandiri sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi lebih kreatif, interaktif, efektif, dan mampu meningkatkan minat belajar anak-anak,” ujar Benyamin.

Menurutnya, penggunaan multimedia edukatif bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi menjadi strategi pembelajaran yang mampu meningkatkan konsentrasi, rasa ingin tahu, serta partisipasi aktif anak selama proses belajar berlangsung.

Ia menambahkan, guru merupakan ujung tombak pendidikan. Ketika guru memiliki kemampuan mengembangkan media pembelajaran digital, maka kualitas pembelajaran juga akan meningkat secara signifikan.

“Kami berharap ilmu yang diperoleh selama pelatihan ini tidak berhenti pada kegiatan hari ini saja, tetapi terus dikembangkan dan diterapkan dalam aktivitas belajar mengajar sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh anak-anak,” tambahnya.

Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini juga menjadi bagian penting dari proses pembelajaran di perguruan tinggi. Selain mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah, mahasiswa belajar berinteraksi dengan masyarakat serta memahami berbagai tantangan pendidikan yang dihadapi di lapangan.

Melalui kolaborasi antara dosen dan mahasiswa, proses transfer pengetahuan berlangsung lebih dinamis. Para peserta memperoleh pendampingan secara personal sehingga lebih mudah memahami materi sekaligus mengembangkan kreativitas dalam membuat media pembelajaran.

Salah seorang peserta, Sr. Lency, mengaku sangat terbantu dengan pelatihan tersebut. Menurutnya, materi yang diberikan membuka wawasan baru mengenai pemanfaatan teknologi sebagai sarana mendukung proses pembelajaran di PAUD.

“Kami sangat bersyukur mendapatkan pelatihan ini. Selama ini kami belum maksimal memanfaatkan aplikasi Canva. Setelah mengikuti pelatihan, kami menjadi lebih percaya diri untuk membuat media pembelajaran yang menarik sehingga anak-anak akan lebih antusias mengikuti kegiatan belajar,” ungkapnya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan agar para guru memperoleh pembaruan pengetahuan seiring pesatnya perkembangan teknologi digital.

Pelatihan yang berlangsung di PAUD MRC Osiloa yang beralamat di Kelurahan Tarus, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang ini juga menjadi momentum penting dalam memperkuat budaya literasi digital di lingkungan pendidikan anak usia dini. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, guru dituntut mampu beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan dan karakteristik anak.

Dengan kemampuan menyusun bahan ajar berbasis multimedia secara mandiri, para guru diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih inovatif, komunikatif, dan menyenangkan. Media pembelajaran digital yang dibuat dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan huruf, angka, warna, bentuk, cerita bergambar, permainan edukatif, hingga berbagai aktivitas kreatif yang mampu merangsang tumbuh kembang anak.

Ke depan, program seperti ini diharapkan terus diperluas sehingga semakin banyak satuan pendidikan anak usia dini yang memperoleh pendampingan dalam memanfaatkan teknologi informasi secara positif dan produktif.

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut, Universitas Uyelindo kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya di sektor pendidikan. Sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan di tingkat akar rumput menjadi modal penting untuk melahirkan generasi yang cerdas, kreatif, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan di era digital. (bet)