Pertengkaran Fidel dan Starla (Oleh: Will Fon)

Pertengkaran Fidel dan Starla (Oleh: Will Fon)

SETELAH lima tahun menempuh hidup bersama yang dikukuhkan lewat perkawinan Katolik, rona kemesraan Fidel dan Starla tampaknya sudah semakin memudar. Kebiasaan bercengkerama dengan wajah ceria yang kerap dilakukan dulu, nyatanya sudah tidak ada lagi sekarang. Kini, canda tawa itu serentak berevolusi menjadi perdebatan dan pertengkaran. Begitu pun dengan muka ceria menjadi bengis.

Rasanya, kelihaian kedua insan yang ditakdirkan untuk menjadi satu daging itu dalam menciptakan keharmonisan telah lumpuh. Bahkan,  rasa cinta dan tali hablun serentak terancam pupus dan putus. Pertentangan dan perdebatan kerap mendominasi kerlap-kerlip kehidupan mereka setiap hari dengan topik yang berbeda-beda. Suasana dalam ‘istana tua’ mereka tidak karuan. Kini, ruang tamu menjadi saksi bisu berlangsungnya pertengkaran mereka yang kesekian kalinya.

“Aku sudah muak dengan kamu, Fidel,” ucap Starla.

“Ada apa lagi?” respons Fidel penuh emosi.

“Kamu memang laki-laki mati rasa ya. Kamu sama sekali acuh terhadap perasaanku. Apa iya, urat kepekaanmu sudah putus?”

“Kamu kenapa lagi sih. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba mengamuk tidak jelas. Jangan ajak aku bertengkar lagi. Aku sedang pusing memikirkan pekerjaan yang terlampau banyak.”

“Dasar laki-laki tidak berguna. Aku menyesal menikah dengan kamu. Seandainya aku tidak menikah denganmu, pasti hidupku sudah bahagia sekarang. Kamu tidak bisa memberikan apa-apa buat aku,” imbuh Starla dengan nada kesal. Tampaknya, rasa kekecewaannya sudah membuncah.

“Diam, Starla! Jangan sampai aku copot lidahmu. Kamu sudah gila ya? Aku sudah banting tulang bekerja setiap hari demi kamu, namun kamu masih mengeluh. Apa masih ada yang kurang? Apa kamu ingin membuat rumah lebih mewah lagi, atau membelikan mobil dan motor baru lagi, atau bedak, lipstik, handbody, parfum, serta semua perabotan rumah tangga kita?”

“Haruskah aku mati saat bekerja untuk menyakinkan kamu bahwa aku adalah laki-laki yang bertanggung jawab,” imbuh Fidel sambil menatap Starla.

“Asal kamu tahu, ya! Aku tidak butuh harta yang berlimpah. Aku hanya butuh anak dari kamu. Apalah artinya hubungan kita tanpa ada anak,” tegas Starla perlahan membongkar isi hatinya.

“Jujur, hidup perkawinanku terasa tidak sempurna bila tidak mengasih, mengasuh, dan mengasah anak. Kalau hubungan kita begini terus, maka jangan salahkan aku bila berselingkuh. Atau, lebih baik, kamu ceraikan saja aku!” ucap Starla tanpa pikir panjang sembari menatap tajam wajah Fidel.

Mendengar ungkapan itu, Fidel sontak terdiam. Dia tidak bisa memuntahkan satu jawaban pun. Tapi, perlahan dia menghela napas panjang. Dia perlahan mendekati Starla dan memeluk sembari menghelai rambutnya. Kayaknya, Fidel sedang berusaha untuk mengendalikan emosi agar tidak semakin runyam masalahnya.

“Sebenarnya, untuk hal ini, bukan cuma kamu yang sedih. Aku juga memiliki kerinduan yang sama. Tapi, ya, memang sudah begini jalannya. Jangan marah lagi. Masalah tidak terselesaikan hanya dengan marah-marah. Memang, nggak ada rumah tangga  yang benar-benar baik. Semua pasti pernah diuji dan pernah dilanda masalah. Hanya saja, bagaimana cara kita menyelesaikannya semua agar tidak muncul masalah baru,” terang Fidel.

“Kita sudah tua, bukan anak kecil lagi. Karena itu, kita mesti menghadapi semuanya secara dewasa. Kita harus sabar. Biarkan Tuhan yang bekerja. Jika memang Tuhan tidak menghendaki semuanya terjadi, maka kita tidak boleh membantah hukum takdir itu. Tapi, sebagai umat-Nya, tidak salah kalau kita meminta kepada Dia,” imbuh Fidel sembari meneguhkan Starla dengan ungkapan yang terkesan religius. Biasa, eks-frater tuh begitu.

*****

Waktu berjalan terlampau cepat. Penyesalan akan nasib perkawinan tanpa seorang anak merayukan hati Starla, apalagi usia mereka semakin tua. Fidel sekarang berusia tiga puluh delapan tahun, sedangkan Starla berusia tiga puluh lima tahun. Semakin bertambahnya usia, kecemasan dan kekecewaan semakin menjadi-jadi. Starla takut bahwa masa kesuburannya akan segera berhenti.

Kerinduan untuk segera memiliki anak menjadi harapan yang tidak pernah hilang dari benak Fidel terkhusus Starla. Hal ini memantik mereka untuk melakukan konsultasi dengan dokter guna menemukan titik terangnya. Namun, setiap kali diperiksa, tidak ada satu penyakit pun ditemukan oleh dokter.

“Bapak Fidel dan ibu Starla, berdasarkan hasil pemeriksaan bahwa kalian berdua sehat-sehat saja. Saya tidak menemukan satu penyakit pun pada organ reproduksi  kalian,” terang dokter.

“Lalu, apa yang harus kami lakukan supaya  bisa memiliki anak, dokter?” tanya Fidel.

“Saya sarankan agar kalian berdua harus betul-betul memperhatikan pola hidup; mulai dari makan, istirahat, dan olahraga. Jangan lupa agar tetap datang konsultasi dengan saya. Selain itu, kalian berdua harus berdoa kepada Tuhan sebagai asal segala-galanya. Bukankah tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan, semuanya pasti mungkin. Dia pasti akan mendengarkan pekikan permohonan kalian,” ujar dokter sembari memberikan secercah harapan bagi mereka.

“Selain itu, berusahalah dengan sungguh-sungguh,” usul dokter bercampur canda.

Heeeee….ia, dokter. Kami akan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Iya, kan mas? Sanggah Starla tanpa ragu sembari  menatap  Fidel. Namun, Fidel hanya tersenyum saja.

Seusai konsultasi, Fidel dan Starla pamit pulang. Mereka berharap agar usul dokter tadi dapat mereka terapkan. Mereka tampaknya sungguh-sungguh ingin memiliki anak. Karena itu, pola hidup mereka setiap hari akan dilakukan secara teratur berdasarkan saran dokter. Selain itu, mereka, di setiap sepertiga malam, kerap bertelut sembari menengadahkan telapak tangan untuk meminta agar diberikan oleh Sang untuk diberikan anak.

*****

Selang satu tahun kemudian, Starla merasa aneh dengan tubuhnya. Sudah dua bulan, dia tidak menstruasi bahkan sering muntah dan mual. Prasangka mulai muncul. “Kenapa aku jadi begini, apakah aku akan segera mati?” gumamnya dalam hati. Apalagi, dia memang memiliki riwayat sakit lambung.

Dia pun merahasiakan hal tersebut dengan Fidel. Dia cemas, Fidel akan merasa terbebani bila menceritakan keluhan itu. Apalagi akhir-akhir ini, Fidel sibuk dengan urusan perkantoran.

Kali ini, Starla, sebagai ibu rumah tangga, pergi berkonsultasi kepada dokter tanpa sepengetahuan Fidel.

Dia menceritakan semuanya dengan penuh ketakutan. Dia khawatir akan difonis bahwa penyakit lambungnya  semakin parah. Ketika, Starla telah menceritakan semuanya, dokter pun tersenyum. Lalu, dokter memeriksanya. Hasilnya, dia positif hamil.

Awalnya, Starla tidak yakin dengan perkataan dokter bahwa dia sedang hamil. Dia berpikir bahwa dokter sedang bercanda. Apalagi, watak dokter yang humoris. Namun, ketidakyakinannya serentak hilang setelah dokter menyodorkan hasil pemeriksaan.

Melihat hasil tersebut, air mata Starla serentak jatuh membasahi pipinya yang lesung itu. Baru kali ini, Starla menumpahkan air matanya. Apalagi, dia dikenal memiliki sifat ceroboh dan cerewet. Tentu, dia jarang menangis. Tapi  kini tidak, Ia tidak kuasa menahan air matanya sebagai tangisan bahagia sebab apa yang digandrunginya selama ini kini terwujud.

*****

Starla berniat untuk merahasiakan kehamilannya sembari menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu Fidel. Bahkan, kertas hasil pemeriksaan pun disembunyikannya agar tidak dilihat oleh Fidel. Dia pun teringat bahwa dua Minggu lagi Fidel akan berulang tahun. Karena itu, Starla berpikir bahwa bayi yang dikandungnya akan dijadikan sebagai kado terindah dan termewah bagi suami kesayangannya itu setelah melalui penantian panjang, lima tahun.

Masa mengandung yang dialami Starla berimbas pada kekuatan cintanya terhadap Fidel. Api cinta yang hampir padam kini semakin berkobar. Cinta Starla kembali mengakar kuat. Mungkin, ini adalah pertanda bahwa perdebatan mereka akan segera berakhir. Dan, keharmonisan akan segera tercipta. (*)

error: Content is protected !!