Langit sore itu terasa teduh. Sabtu, 21 Maret 2026, gema takbir Idul Fitri masih bergaung, membawa suasana damai yang merasuk hingga ke sudut-sudut kediaman Ridwan Angsar di bilangan Batuplat. Namun di balik hangatnya tradisi saling memaafkan, ada denyut lain yang terasa. Lebih dalam. Lebih strategis. Lebih menentukan.
OBED GERIMU,- Kupang
Hari itu, rumah tersebut tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya keluarga. Ia menjelma menjadi ruang silaturahmi lintas profesi, terlebih para insan Taekwondo yang dalam diam merajut arah masa depan Taekwondo Indonesia Nusa Tenggara Timur.
Sejak pagi, arus tamu tak pernah benar-benar berhenti.
Dari halaman depan hingga ruang tengah, wajah-wajah yang datang bukanlah tamu biasa. Mereka adalah orang-orang yang selama ini berdiri di garis depan pembangunan daerah—para pejabat dan staf dari Kejaksaan Tinggi NTT, jajaran Kejaksaan Negeri di daratan Timor, sahabat lama, hingga keluarga besar yang datang dari berbagai penjuru.
Pelukan hangat, jabat tangan erat, dan tawa yang pecah sesekali menjadi pemandangan yang mengalir alami.
Namun di sela-sela itu, percakapan serius juga terdengar—tentang tanggung jawab, tentang pengabdian, dan tentang masa depan.
Tak lama kemudian, suasana berubah semakin hidup.
Rombongan demi rombongan dari dunia olahraga mulai berdatangan. Pengurus PSSI NTT, pelatih, hingga atlet Taekwondo kian berdatangan. Mereka datang membawa satu semangat yang sama: silaturahmi… sekaligus harapan.
Di antara kerumunan itu, hadir figur-figur kunci dari Pengprov TI NTT. Nama-nama seperti Obed Djami, Fendy Himan, Hangri Pah, hingga Amos Lafu tampak berbincang akrab. Tidak ada panggung resmi. Namun pesan yang beredar begitu jelas terasa. Ini bukan sekadar kunjungan. Ini adalah sinyal.
Di sudut lain, suasana menjadi lebih emosional ketika Maria Messakh melangkah masuk. Atlet berprestasi yang namanya sempat mengundang perhatian publik karena batal diberangkatkan ke seleksi Pelatnas itu hadir bersama sejumlah atlet muda NTT lainnya. Wajah-wajah penuh semangat, namun juga menyimpan tanya.
Bagi mereka, pertemuan itu bukan sekadar momen Lebaran. Ia adalah ruang harapan—bahwa ke depan, sistem pembinaan akan lebih adil, lebih transparan, dan lebih berpihak pada prestasi.
Sejumlah pelatih dari berbagai dojang di Kota Kupang juga tampak hadir. Mereka saling bertukar cerita, berbagi pengalaman, hingga membicarakan masa depan anak-anak didik mereka.
Di tengah semua itu, sosok Ridwan Angsar bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain. Menyapa, mendengar, dan sesekali tersenyum. Tidak ada gestur berlebihan. Namun justru di situlah letak kekuatannya—kedekatan.
Kehadiran Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi NTT, Karel Muskanan, semakin menegaskan bahwa pertemuan itu bukan sekadar ajang silaturahmi biasa. Semua bertemu dalam satu ruang.
Di balik suasana itu, satu fakta tak terbantahkan mulai menguat, yaitu dukungan terhadap Ridwan Angsar sebagai calon Ketua Taekwondo NTT kian mengkristal. Tidak dalam bentuk deklarasi terbuka. Tidak pula dalam pernyataan panjang. Melainkan melalui kehadiran. Dan dalam dunia organisasi, kehadiran seringkali lebih lantang dari kata-kata.
Sementara itu, di halaman rumah yang dipenuhi suasana kekeluargaan itu, pertarungan sesungguhnya tengah bersiap.
Sebelumnya, Gubernur NTT, Melki Laka Lena dengan tegas telah menyatakan dukungan kepada Ridwan Angsar untuk maju dalam kontestasi Musprov TI NTT. “Saya dukung penuh,” ujar Melki.
Pernyataan itu menjadi penting. Bukan hanya sebagai bentuk legitimasi moral, tetapi juga sebagai penanda bahwa kontestasi ini diharapkan berjalan sehat, demokratis, dan berorientasi pada prestasi.
Nama Ridwan Angsar sendiri tidak muncul tiba-tiba. Jejaknya dalam pembinaan taekwondo sudah cukup panjang. Dari membangun dojang di lingkungan kejaksaan hingga menggagas kejuaraan bergengsi seperti Adhyaksa Cup di Kupang—yang bahkan disebut sebagai salah satu event terbaik di Indonesia.
Ia dikenal sebagai sosok yang tidak hanya berbicara, tetapi bekerja. Ridwan membawa energi perubahan.
Musprov tahun ini pun dipastikan menjadi titik balik. Bukan sekadar memilih ketua. Tetapi menentukan arah.
Apakah taekwondo NTT akan melompat lebih jauh? Atau tetap berjalan di ritme yang sama? Harapan publik jelas: prestasi.
Para atlet NTT tidak lagi ingin sekadar menjadi peserta. Mereka ingin menjadi juara. Mereka ingin berdiri di podium nasional, bahkan internasional, mengibarkan nama Nusa Tenggara Timur dengan bangga. Namun untuk itu, mereka membutuhkan lebih dari sekadar latihan keras. Mereka membutuhkan sistem yang kuat. Dan yang paling penting, kepemimpinan yang visioner.
Ketika malam kian larut, satu per satu tamu pamit meninggalkan rumah Ridwan Angsar. Namun yang tertinggal bukan hanya jejak langkah. Melainkan pesan. Bahwa di balik hangatnya Idul Fitri, telah lahir sebuah konsolidasi diam-diam.
Bahwa di antara tawa dan pelukan, telah terbangun harapan besar. Dan bahwa perjalanan menuju kursi Ketua Taekwondo Indonesia NTT bukan lagi sekadar wacana. Ia sudah dimulai. Dari sebuah rumah. Dari sebuah pertemuan. Dari sebuah momentum yang mungkin akan dikenang sebagai awal dari perubahan besar dalam sejarah taekwondo NTT. (*)













