SUMEDANG, PENATIMOR – Dari rumah sederhana di Kota SoE, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga berdiri di panggung kehormatan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Jatinangor, Jawa Barat.
Perjalanan itu ditempuh Aji Bayu Ramadhan (23), putra pasangan Winoto Hadi (56), seorang buruh bangunan, dan Wahyuniarti (51), ibu rumah tangga.
Minggu (26/7/2026), menjadi hari yang tak akan pernah dilupakan keluarga sederhana tersebut. Di tengah riuh tepuk tangan yang memenuhi Balairung Rudini, Kampus IPDN Jatinangor, Kabupaten Sumedang, nama Aji Bayu Ramadhan dipanggil sebagai lulusan terbaik IPDN Angkatan XXXIII Tahun 2026.
Di antara 1.404 wisudawan yang mengenakan toga, Aji tampil sebagai salah satu lulusan terbaik dengan capaian akademik membanggakan. Ia meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,84 setelah menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Teknologi Rekayasa Informasi Pemerintahan, Fakultas Manajemen Pemerintahan.
Namun, di balik angka 3,84 dan gelar sebagai lulusan terbaik, tersimpan kisah perjuangan seorang anak dari keluarga sederhana yang menolak menyerah pada keadaan.
Tidak ada warisan jabatan. Tidak ada koneksi khusus. Tidak ada kemewahan. Yang dimiliki Aji dan keluarganya hanyalah doa, kerja keras, disiplin, serta keyakinan bahwa pendidikan dapat menjadi jalan untuk mengubah masa depan.
Saat namanya diumumkan sebagai lulusan terbaik, Aji mengaku diliputi rasa haru, bangga, dan syukur. “Alhamdulillah saya sangat senang, bangga, dan bersyukur bisa diberikan amanah menjadi lulusan terbaik IPDN 2026. Saya berterima kasih kepada seluruh civitas akademika dan masyarakat Indonesia. Mudah-mudahan ini bisa menjadi bagian untuk membuat Indonesia lebih baik ke depan,” ujar Aji.

Anak Buruh Bangunan yang Menolak Minder
Aji lahir dan tumbuh dari keluarga dengan kondisi ekonomi sederhana. Ayahnya, Winoto Hadi, sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan. Sementara ibunya, Wahyuniarti, sepenuhnya mengabdikan diri sebagai ibu rumah tangga.
Keterbatasan ekonomi menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak kecil. Namun, Aji tidak pernah menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk berhenti bermimpi. “Ya, ayah saya buruh bangunan dan ibu saya ibu rumah tangga. Tentu saja kami berasal dari keluarga menengah ke bawah. Kami sangat terbatas,” katanya.
Justru dari keterbatasan itulah, Aji menemukan alasan untuk bekerja lebih keras. Pria asal Jalan Gajah Mada, Kecamatan Kota SoE, Kabupaten TTS, tersebut memiliki satu keyakinan yang terus ia pegang selama menjalani pendidikan di IPDN. “Saya berpikir, kalau saya tidak punya privilege, maka nanti saya yang akan menjadi privilege untuk kedua orang tua saya,” ucapnya.
Kalimat tersebut bukan sekadar ucapan. Selama empat tahun menjalani pendidikan di IPDN yang dikenal dengan sistem pendidikan disiplin dan penuh tantangan, Aji berusaha membuktikan bahwa latar belakang keluarga bukanlah batas bagi seseorang untuk meraih prestasi.
Menurut Aji, selama berada di lingkungan kampus, seluruh praja mendapatkan kesempatan dan perlakuan yang relatif sama. Seragam, fasilitas pendidikan, hingga berbagai kebutuhan dasar disediakan secara setara.
Perbedaan latar belakang ekonomi baru terasa ketika para praja berada di luar lingkungan kampus. “Sejujurnya, kami sudah diatur. Seragam sama, pengadaan sama semua. Kalau keluar untuk jajan memang kelihatan perbedaannya. Tapi saya percaya keterbatasan itu justru menjadi privilege sehingga saya bisa berusaha maksimal,” ujarnya.
Pernah Bercita-cita Jadi Guru
Sebelum menjadi praja IPDN, Aji sebenarnya memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pendidik. Ia pernah membayangkan dirinya menjadi guru atau dosen. Namun, pandangannya tentang bentuk pengabdian berubah setelah diterima dan menjalani pendidikan di IPDN.
Di kampus tersebut, Aji melihat bahwa pengabdian kepada masyarakat dan bangsa dapat dilakukan melalui berbagai bidang, termasuk birokrasi dan pemerintahan. “Saya awalnya ingin menjadi pendidik. Tapi ketika masuk IPDN, saya melihat masih banyak hal yang bisa kita ubah di Indonesia,” katanya.
Meski demikian, semangat untuk menjadi seorang pendidik tidak pernah benar-benar hilang. Bagi Aji, menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain tetap menjadi tujuan utama, apa pun bidang pengabdian yang kelak dipilihnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan di IPDN, Aji telah menyiapkan mimpi berikutnya. Ia ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri untuk memperluas wawasan mengenai tata kelola pemerintahan dari perspektif internasional. “Rencana ke depan saya ingin kuliah di luar negeri. Saya ingin melihat sudut pandang internasional dan itu menjadi bagian dari cara memomong masyarakat Indonesia ke depan,” katanya.
Sebagai anak muda yang berasal dari daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), Aji memahami betul bagaimana rasanya tumbuh dengan keterbatasan. Karena itu, ia menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda Indonesia, terutama mereka yang berasal dari keluarga sederhana dan daerah yang jauh dari pusat pembangunan.
Ia meminta anak-anak muda untuk tidak minder dan tidak takut bermimpi besar. “Jangan minder, jangan takut. Kerja keras dan semuanya akan kita lalui. Kami berasal dari daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar di Indonesia),” ujarnya.
Bagi Aji, masa depan bukan sesuatu yang hanya bisa diraih oleh mereka yang lahir dari keluarga berada. Masa depan terbuka bagi siapa saja yang mau mempersiapkannya sejak sekarang. “Masa depan itu gratis. Pilih yang paling mahal,” katanya.
Pesan tersebut menjadi salah satu kalimat yang paling kuat dari perjalanan hidupnya. Sebab, Aji telah membuktikan sendiri bahwa seseorang tidak harus lahir dari keluarga kaya, memiliki koneksi, atau berasal dari lingkungan elite untuk mencapai prestasi tertinggi.
Di balik keberhasilan Aji, terdapat sosok ibu yang selama bertahun-tahun mengiringi langkah putranya dengan doa. Wahyuniarti mengaku tidak pernah membayangkan putra sulungnya akan berdiri di panggung kehormatan sebagai lulusan terbaik IPDN 2026. “Waktu mengandung biasa saja, seperti ibu yang hamil pada umumnya. Hanya memang banyak doa dan ikhtiar yang kami lakukan,” tutur Wahyuniarti.
Sejak Aji memutuskan mendaftar ke IPDN, sang ibu selalu berusaha mendampingi setiap langkahnya. Menurut Wahyuniarti, sejak kecil Aji memang dikenal sebagai anak yang aktif.
Ia gemar berorganisasi dan mengikuti berbagai perlombaan, baik di tingkat nasional maupun internasional. “Dia hobinya organisasi. Organisasi nasional, organisasi internasional. Hobinya ikut lomba. Dapat hadiah, dapat banyak piagam. Memang dia senangnya ikut kompetisi,” katanya.
Namun, selama empat tahun Aji menjalani pendidikan di IPDN, ada satu kekhawatiran yang terus disimpan sang ibu. Wahyuniarti sering mendengar kabar tentang praja yang harus diberhentikan karena pelanggaran disiplin atau persoalan yang dipicu emosi sesaat.
Karena itu, nasihat yang selalu ia sampaikan kepada Aji bukan hanya tentang nilai akademik dan prestasi. Ia lebih sering mengingatkan putranya untuk menjaga diri dan pergaulan. “Saya selalu bilang, kita tidak punya back up dari mana-mana. Jadi harus bisa menjaga diri. Jaga diri dari pergaulan, dari orang-orang yang mungkin tidak mendukung,” ujarnya.
Sebagai orang tua, Wahyuniarti mengaku selalu berusaha untuk tidak menambah beban pikiran putranya. Ia pun bersyukur karena Aji tidak pernah banyak bercerita tentang persoalan yang dapat membuat keluarganya cemas. “Saya sangat terharu. Yang saya takutkan itu kalau dengar ada praja yang tiba-tiba kena pecat karena emosi sesaat atau terpancing. Alhamdulillah dia tidak banyak cerita yang membuat kami khawatir,” katanya.
Kini, seluruh kecemasan itu berubah menjadi kebanggaan. Nama Winoto Hadi, seorang buruh bangunan, dan Wahyuniarti, seorang ibu rumah tangga, berkali-kali disebut dalam momen penting ketika putra mereka dinobatkan sebagai salah satu lulusan terbaik IPDN 2026.
Dari keluarga sederhana di Kota Soe, Aji Bayu Ramadhan membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Justru, dari keterbatasan itulah, ia menemukan alasan untuk berjuang lebih keras.
Dan hari ini, anak seorang buruh bangunan dari NTT itu berdiri sebagai lulusan terbaik IPDN. Bukan karena ia lahir dengan privilege. Melainkan karena ia memilih untuk menjadi privilege bagi kedua orang tuanya. (bet)












