Salt Triangle Bipolo-Sabu-Rote Dinilai Layak Jadi Lumbung Garam Nasional, Terbaik Dunia

Salt Triangle Bipolo-Sabu-Rote Dinilai Layak Jadi Lumbung Garam Nasional, Terbaik Dunia

JAKARTA, PENATIMOR – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai memiliki potensi besar sebagai penghasil garam nasional.

Kualitas bahan baku yang tinggi, didukung iklim panas serta kadar salinitas yang optimal, menjadikan garam NTT disebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia.

Direktur Eksekutif Indonesia Maritime Institute (IMI) Dr. Y. Paonganan, atau yang akrab disapa Ongen, menyarankan pemerintah menetapkan kawasan “Salt Triangle” yang meliputi Bipolo (Kupang), Sabu, dan Rote Ndao sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK) untuk industri garam.

“Tiga kawasan ini memiliki kriteria yang sangat potensial untuk pencapaian swasembada garam nasional pada tahun 2027,” ujar Ongen, dalam keterangan tertulis, Jumat (26/9/2025).

Menurut Ongen, bila memenuhi persyaratan, kawasan tersebut bahkan bisa ditingkatkan statusnya menjadi Free Trade Zone (zona perdagangan bebas) berbasis industri garam dan sektor maritim lainnya.

Dia menilai potensi yang bisa dikembangkan tidak hanya garam, tetapi juga perikanan, pariwisata bahari, hingga industri perkapalan.

Dia menambahkan, iklim di NTT sangat ideal untuk pengembangan garam. Karakteristik cuaca panas dengan intensitas sinar matahari tinggi dinilai mirip dengan kawasan produsen garam premium di Australia.

“Itu artinya tiga kawasan tersebut memiliki potensi, sehingga pemerintah bisa segera menetapkan sebagai kawasan ekonomi khusus,” tegas Ongen.

Meski peluangnya besar, sejumlah tantangan turut mengemuka. Infrastruktur jalan, listrik, dan pelabuhan dinilai masih perlu diperkuat.

Selain itu, persoalan sosial seperti kepemilikan lahan dan partisipasi masyarakat lokal juga menjadi faktor yang harus diperhatikan.

Peningkatan kualitas produksi dan sertifikasi mutu garam disebut menjadi kunci agar produk NTT mampu bersaing di pasar domestik maupun internasional. Ongen menekankan perlunya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, investor, dan masyarakat.

Menurutnya, pembangunan kawasan Salt Triangle tidak boleh hanya dinikmati korporasi besar, melainkan juga memberikan nilai tambah bagi masyarakat pesisir di NTT.

“Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan Salt Triangle Bipolo-Sabu-Rote berpeluang menjadi ikon baru industri garam nasional sekaligus pintu masuk pengembangan sektor maritim lainnya. Langkah ini juga mendukung target pemerintah mencapai swasembada garam pada 2027,” tutur Ongen. (mel)

error: Content is protected !!