KUPANG, PENATIMOR – Di balik wajah tegas dan suara lembutnya, ada kisah panjang tentang kerja keras, kesetiaan, dan pengabdian yang tak henti bagi negeri. Itulah sosok Dr. Noven Verderikus Bulan, S.H., M.Hum., jaksa berdarah Rote Ndao yang kini dipercaya menempati jabatan strategis sebagai Koordinator pada Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (Kejati NTT).
Promosi ini bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga cerminan dari perjalanan panjang seorang putra daerah yang membangun karier dari bawah sebagai insan Adhyaksa—dari Kejari Lembata di Lewoleba hingga Bidang Intelijen Kejati NTT di Kupang.
Langkahnya yang konsisten, integritasnya yang terjaga, serta dedikasinya yang tulus menjadikan Noven salah satu figur penting di jajaran Bidang Intelijen Kejati NTT.
Lahir di Rote Ndao, 5 November 1978, Noven kecil tumbuh dalam keluarga sederhana yang menanamkan nilai-nilai iman, kerja keras, dan tanggung jawab. Sebagai anak dari pulau paling selatan Indonesia, ia akrab dengan kerasnya kehidupan dan terbiasa berjuang sejak dini. “Rote mengajarkan saya arti disiplin dan kesederhanaan. Semua yang saya capai hari ini berawal dari sana,” ungkapnya dalam sebuah kesempatan.
Perjalanan pendidikannya dimulai dari SDI Detesea (1990), SMP Negeri Eahun (1994), dan SMEA Wirakarya Kupang (1997). Kecintaannya pada dunia hukum membawanya menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana Kupang, jurusan Hukum Pidana, dan lulus pada tahun 2002.
Tak berhenti di situ, semangat intelektualnya membuat ia melanjutkan ke jenjang Magister Humaniora (M.Hum) di almamater yang sama, dan meraih gelar tersebut dengan IPK 3,76 pada tahun 2014.
Ia juga melanjutkan ke jenjang doktoral (S3) pada Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dan resmi menyandang gelar doktor bidang hukum usai menjalani ujian terbuka promosi doktor pada 30 Juni 2025, dan kemudian diwisuda pada 27 September 2025.
Noven mengawali kariernya di korps Adhyaksa pada 1 Maret 2006 sebagai Calon Pegawai (Capeg) di Kejaksaan Negeri Lembata. Di sinilah fondasi profesionalismenya ditempa. Ia mulai belajar arti loyalitas dan dedikasi terhadap institusi. Setahun berselang, ia resmi diangkat menjadi Jaksa, dan sejak itu roda pengabdian tak pernah berhenti berputar.
Kariernya berlanjut sebagai Kasubsi Teknologi Informasi dan Penerangan Hukum di Kejari Lembata, sebelum kemudian dipercaya memegang jabatan penting di berbagai satuan kerja kejaksaan di NTT. Dari Kejari Rote Ndao, Kejari Sumba Timur, Kejari Sikka, Kejari Timor Tengah Utara, hingga Kejari Kabupaten Kupang dan Kejari Kota Kupang, hampir seluruh pelosok NTT pernah menjadi ladang pengabdiannya.

Dalam setiap penugasan, ia dikenal piawai menangani perkara dan mampu membangun koordinasi lintas instansi, terutama dalam fungsi intelijen hukum dan pengamanan proyek strategis.
Puncaknya, sejak tahun 2022 hingga kini, Noven mengemban tanggung jawab di lingkungan Kejati NTT, dimulai dari Kepala Seksi Sosial, Budaya dan Kemasyarakatan, kemudian Kepala Seksi II Bidang Intelijen, hingga akhirnya dipromosikan menjadi Koordinator Kejati NTT.
Di lingkungan internal Kejati NTT, nama Noven dikenal luas sebagai figur yang berwibawa namun tidak berjarak. Ia kerab datang lebih awal, duduk berdiskusi dengan nada tenang bersama rekan sejawatnya namun tegas, dan tidak segan turun langsung ketika ada operasi intelijen di lapangan. “Pak Noven itu tipe jaksa yang tidak suka tampil di depan kamera, tapi hasil kerjanya selalu berbicara,” ujar salah satu staf Bidang Intelijen Kejati NTT.
Selama menjabat Kasi II Bidang Intelijen, Noven banyak berperan dalam pengawasan dan pengamanan berbagai proyek pembangunan strategis nasional di wilayah NTT, termasuk sektor infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Ia juga aktif memimpin kegiatan penyuluhan hukum di sekolah, kampus, dan beberapa kegiatan talk show atau seminar, menyadari pentingnya literasi hukum bagi masyarakat.

Sebagai pejabat yang tumbuh dari jalur intelijen, Noven dikenal memiliki insting tajam dalam membaca dinamika sosial dan potensi gangguan stabilitas hukum di daerah. Bagi dirinya, intelijen kejaksaan bukan hanya alat pengawasan, tetapi juga garda depan dalam membangun ketahanan sosial hukum masyarakat.
Ia kerap menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam penegakan hukum. “Penegakan hukum tidak cukup hanya dengan sanksi, tapi juga dengan edukasi. Intelijen itu seharusnya jadi mata dan hati negara di tengah rakyat,” demikian salah satu prinsipnya yang sering ia sampaikan dalam forum internal.
Di balik ketegasan seorang pejabat intelijen, tersimpan pribadi religius yang bersahaja. Sebagai umat Kristen Protestan, Noven menempatkan nilai iman sebagai dasar setiap langkah hidup dan tugasnya. Ia kerap terlibat dalam kegiatan gereja dan menjadi pembicara motivasi bagi generasi muda Kristen di Kupang, bahkan menjadi panitia pembangunan gedung gereja.
Di rumahnya di Kelurahan Oepura, Kota Kupang, ia hidup bersama sang istri tercinta Yeti Marliana Toda, seorang pegawai negeri sipil yang juga aktif di lingkungan pelayanan. Mereka dikaruniai empat anak yang menjadi kebanggaan keluarga, yaitu Callysta Letisha Bulan (lahir 2011), Prince Adhyaksa Bulan (lahir 2012), Adelio Adhyasta Bulan (lahir 2015), dan Adiputra Adelino Bulan (lahir 2020). Nama “Adhyaksa” yang disematkan pada dua anak lelakinya menjadi simbol kecintaannya pada lembaga tempatnya mengabdi.
Dengan pengalaman lintas daerah dan latar belakang akademik yang kuat, Noven diharapkan menjadi motor penggerak koordinasi internal Kejati NTT, khususnya dalam penguatan fungsi intelijen hukum dan pembinaan wilayah. Sebagai Koordinator, ia akan berperan penting dalam mendukung arah kebijakan Kepala Kejati NTT dalam memperkuat peran kejaksaan sebagai pelindung kepentingan umum dan pengawal pembangunan daerah.
Salah satu pejabat senior Kejati NTT menyebutnya sebagai “aset berharga institusi” karena memahami betul kultur masyarakat NTT dan mampu menjembatani pendekatan hukum yang tegas namun humanis. “Pak Noven ini bukan hanya jaksa, tapi juga jembatan antara hukum dan masyarakat. Beliau tahu cara bicara dengan rakyat dan tetap menjaga integritas lembaga,” ujar seorang koleganya di lingkungan Asintel Kejati NTT.
Kisah karier Noven Verderikus Bulan adalah cerminan nyata bahwa pengabdian tulus tidak mengenal batas wilayah. Dari Nusa Lontar Rote Ndao yang jauh di selatan hingga pusat Kejati di Kupang, ia menempuh jalan panjang dengan langkah yang konsisten: melayani, menjaga, dan menegakkan hukum. Dalam setiap tugas yang diembannya, ia membawa pesan sederhana bahwasanya hukum harus hidup bersama masyarakat, bukan di atasnya. (bet)
Profil Singkat
Nama: Dr. Noven Verderikus Bulan, S.H., M.Hum.
Tempat/Tanggal Lahir: Rote Ndao, 5 November 1978
Usia: 46 tahun
Agama: Protestan
Status: Menikah
Jumlah Anak: 4 orang
Alamat: Jalan Delima II, Kelurahan Oepura, Kota Kupang
Pendidikan:
S1 Hukum Pidana, Universitas Nusa Cendana (2002)
S2 Ilmu Hukum, Universitas Nusa Cendana (2014)
S3 Ilmu Hukum, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta (2025)
Pangkat/Golongan: Jaksa Madya (IV/a)
Masa Kerja: 15 tahun 7 bulan
Tanggal Pengangkatan sebagai Jaksa: 24 September 2008
Jejak Penugasan Lengkap
Kejari Lewoleba – Staf TU (2006)
Kejari Lewoleba – Kasubsi TI dan Penerangan Hukum (2008)
Kejari Baa – Jaksa Fungsional & Kasi Pidsus (2009–2011)
Kejari Waingapu – Kasi Datun (2012)
Kejari Maumere – Kasi Pidum (2014)
Kejari Kabupaten Kupang – Kasi Pidsus (2016–2017)
Kejari TTU – Kasi Pidsus (2019)
Kejari Kota Kupang – Kasi Intel (2021)
Kejati NTT – Kasi Sosial, Budaya, dan Kemasyarakatan (2022)
Kejati NTT – Kasi II Bidang Intelijen (2024)
Kejati NTT – Koordinator (2025–sekarang)













