Surat yang Memilukan

Surat yang Memilukan

Oleh: Will Fon

Kegagalan adalah keadaan yang sulit diterima oleh siapa pun. Kehadirannya membawa pilu dan menyayat hati. Kegagalan dan keberhasilan; sukacita dan dukacita selalu datang silih berganti. Ada saat di mana perjuangan kita tampak sia-sia, akhirnya menuai luka. Begitu pun sebaliknya, kita akan tersenyum lebar bahkan tertawa terpingkal-pingkal bila kita meraih apa yang kita gandrungi. Semua keadaan tersebut turut mewarnai kehidupan kita setiap hari. Itulah romantika kehidupan.

Benih panggilan Arman untuk menjadi imam mulai bersemi sejak kelas satu SMP. Harapan itu tidak pupus dan elan semangatnya tetap membara hingga dia menempuh jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Setelah itu, dia berusaha untuk menemukan sebuah biara yang cocok baginya. Pada akhirnya, dia mengenal biara Scalabrinian. Misi dari Scalabrinian yaitu; melayani Tuhan dalam terang wajah para migran, pengungsi, dan pelaut. Tugas mulia tersebut selaras dengan karakter Arman yang selalu merasa prihatin ketika menyaksikan kehidupan orang-orang seperti itu. Atas dasar itu, dia memberanikan diri untuk mengikuti tes masuk di biara Scalabrinian. Alhasil, dia mendapatkan tiket untuk menumpangi ‘bahtera’ itu untuk berlabuh menuju negeri impiannya.

Tahun demi tahun, Arman melewati proses formasi dengan penuh kesadaran bahwa ‘bahtera’ dapat membawa dia menuju negeri impiannya, imamat. Kini, dia sedang berada pada tahap belajar filsafat. Pada tahap ini, dia membekali dirinya dengan ilmu filsafat. Sesuai dengan keputusan biara, dia mesti mengecap pendidikan di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero, Maumere. Institut ini adalah salah satu rahim lahirnya para imam termasuk para imam Scalabrinian.

Biara Scalabrinian menetapkan agar semua fraternya mesti menyelesaikan pendidikan filsafat selama empat tahun. Jika permintaan tersebut tidak diamini, maka yang bersangkutan akan dikeluarkan dari biara. Tuntutan tersebut memantik Arman untuk menyelesaikan studinya tepat waktu.

Kini, dia sudah berada pada level teratas yaitu tingkat empat. Karena itu, Arman, selain bergulat dengan mata kuliah, harus menyelesaikan skripsi sebagai salah satu persyaratan untuk menggondol gelar Filsafat dan melanjutkan formasi di Filipina. Sepulang kuliah, dia selalu duduk di depan layar laptopnya. Dia menyusun skripsinya dengan penuh peluh. Bahkan, dia selalu mengorbankan waktu tidur siangnya demi mengerjakan skripsi. Namun, dia tidak pernah absen untuk bertelut di depan salib Yesus sembari merapalkan permohon pencerahan dari Tuhan untuk menerangi akal budi dan nuraninya. Pada akhirnya, kerja keras Arman tidak sia-sia. Dia berhasil menyelesaikan skripsinya tepat waktu dan mampu mempertanggungjawabkan skripsinya di depan dosen pembimbing dan penguji. Tentu, ini adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi Arman, dengan harapan dapat melanjutkan formasi di Filipina.

*****

Arman yang sedang berjalan menuju negeri impiannya harus berhenti di tengah perjalanan. Dia berhenti bukan karena ia lelah, melainkan karena ia terpaksa diberhentikan. Dua minggu setelah ujian skripsi, Arman diajak oleh kepala biara untuk melakukan tes kesehatan di rumah sakit. Mereka pergi bersama. Surat hasil cek kesehatan pun tidak langsung diketahuinya waktu itu,  sebab diterima oleh kepala biara.

Satu Minggu setelah tes kesehatan, Arman diminta oleh kepala biara untuk menemui dia di ruangannya guna menyampaikan hasil tes kesehatan Arman.

“Frater Arman, saya sangat bangga dengan perjuangan Frater selama ini. Kamu telah melewati beberapa tahap formasi dengan baik. Dan, itu adalah sebuah kebangaan tersendiri bagi kamu dan keluargamu. Saya tidak tahu harus dengan cara atau kata atau kalimat apa yang dipilih untuk menyampaikan hal ini kepada Frater,” ucap kepala biara hendak memulai percakapan mereka.

“Kenapa Padre menutur demikian?” tanya Arman penuh heran bercampur kecemasan.

“Jadi, hasil tes kesehatan kamu kemarin tidak memenuhi syarat untuk melanjutkan formasi di Filipina. Kamu mengidap penyakit TBC.”

Mendengar perkataan itu, mata Arman berbungga dan air mata pun sontak keluar membasahi pipihnya. Matanya memerah. Bibirnya pun bergetar. Dia hanya tertunduk pasrah. Menelan air ludah pun sangat sulit. Di tak mampu untuk memuntahkan satu kata pun. Harapan untuk menjadi Imam pun serentak hilang dalam benaknya.

“Saya sebenarnya merekomendasikan Frater untuk melanjutkan formasi di Filipina. Namun, kita pun hidup dalam komunitas yang mana menuntut banyak hal. Salah satunya ialah tidak mengidap penyakit TBC. Saya berpikir frater sendiri memahami hal ini.”

“Mungkin imamat bukanlah jalan hidup frater Arman. Saya yakin Tuhan memiliki rencana yang lebih indah untuk frater. Parcayalah! Tuhan sangat mencintai frater. Tuhan sendiri bersabda, ‘Jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu di Sorga…’ Saya yakin Tuhan berkehendak seperti ini karena Dia sangat mengenal Frater,” wejang Pater sembari memberikan peneguhan bagi Arman.

“Kalau memang Tuhan mencintai saya, kenapa toh Dia membiarkan saya menderita seperti ini, Padre,” ungkap Arman yang masih terseduh itu.

“Ya, itulah romantika kehidupan. Ada saat di mana kita mengalami suka dan duka. Kita tidak bisa melawan takdir. Tuhan punya kuasa atas hidup kita. Dialah yang menahkodai bahtera hidup ini.”

“Saya yakin bahwa Tuhan telah mempersiapkan jalan hidup yang lebih sempurna bagi frater Arman. Bukankah di balik kegelapan malam yang pekat akan terbit fajar baru yang akan menerangi kehidupan semua ciptaan di kosmos ini. Begitu pun dengan jalan hidup frater ke depannya, Tuhan akan menjamin kebahagiaan di sana. Biarkan pengalaman selama di sini menjadi bekal bagi frater dalam mengayuh di samudera kehidupan dengan bahtera yang baru,” terang pater memberikan secercah harapan bagi Arman.

****

Ya, begitulah romantika kehidupan Arman. Pemuda yang ingin menjadi Imam toh harus berhenti di tengah perjalanan. Takdir Arman agaknya memang harus berada di luar jalur imamat. Akan tetapi, Arman menerima semuanya dengan lapang dada. Dia tidak memberontak di tengah situasi yang dibalut luka itu, melainkan berusaha untuk berdamai dengan situasi yang ada. Dalam kamus kehidupannya, hal-hal bernada keputusasaan atau kekecewaan pun tidak ada. Baginya kegagalan sesungguhnya bermula ketika dia berhenti mencoba. Dalam permenungannya, situasi gundah yang dialaminya seolah menggenapi firman Tuhan sendiri dalam injil Matius, “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” (*)