Kisah Dr Sunarta, Mantan Kajati NTT yang Kini Wakil Jaksa Agung RI, NTT itu Nikmat Tiada Tara

Kisah Dr Sunarta, Mantan Kajati NTT yang Kini Wakil Jaksa Agung RI, NTT itu Nikmat Tiada Tara

JAKARTA, PENATIMOR – Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi), menunjuk Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Kejaksaan RI, Dr Sunarta, SH.,MH., menjadi Wakil Jaksa Agung RI menggantikan Setia Untung Arimuladi yang sudah memasuki masa pensiun.

Penunjukkan itu tertuang dalam Surat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 180/TPA Tahun 2021 tertanggal 31 Desember 2021yang ditandatangani langsung oleh Presiden Jokowi.

“Saya akan bekerja dengan sebaik-baiknya dan optimal membantu bapak Jaksa Agung Burhanuddin sesuai dengan tugas pokok dan fungsi sebagai Wakil Jaksa Agung RI,” ujar Sunarta sebagaimana dikutip dari koranpagionline.com.

Perjalanan karir Dr Sunarta, SH., MH., sebagai aparat penegak hukum di Kejaksaan RI terbilang cukup lengkap mulai dari Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pada Kejaksaan Negeri (Kejari) Subang (1991).

Anak petani dan penggembala kambing kelahiran Subang 12 Juni 1964 ini mengawali karir sebagai Kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel) pada Kejari Singkawang (1994).

Setelah hampir lima tahun bertugas di Kejari Singkawang, Kalimantan Barat, bungsu dari sembilan bersaudara yang mengenyam pendidikan di Subang (SD, SMP dan SMA), dipindahtugaskan menjadi Kasi Intel di Kejari Karawang, Jawa Barat (1999), lalu menjadi Kasi Wilayah II Direktorat Uheksi pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung), lalu berturut-turut menjadi Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Padang Panjang, Kajari Banyuwangi, Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu dan Kajari Palembang.

“Bagi seorang jaksa dimanapun ditugaskan harus ikhlas dan semangat melaksanakan amanah yang dipercayakan oleh pimpinan,” ujar suami dari Ny Iis Komisah ini.

Sunarta adalah tipikal anak desa yang pantang menyerah meski terlahir dari keluarga petani sederhana dan tak pernah mengecap mewahnya kehidupan anak-anak kota. Untuk biaya menyekolahkan anak-anaknya saja, orang tua Sunarta harus kerja keras. Menggembala kambing atau sapi milik tetangga untuk membantu orang tua adalah hal yang biasa bagi Sunarta.

“Namun itulah yang membentuk pribadi saya menjadi pekerja keras dan tak gampang menyerah,” kata bapak empat anak ini dalam suatu kesempatan berbincang-bincang dengan wartawan.

Karir Sunarta di institusi Kejaksaan RI terus moncer. Setelah menjadi Kajari Palembang, pria low profile ini dipercaya menjadi Asisten Intelijen (Asintel) pada Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah (2012). Dua tahun kemudian menjadi Kasubdit pada Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung (2014) lalu pada tahun yang sama menjadi Koordinator pada Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) Kejaksaan Agung.

Saat menjadi Koordinator pada Jampidum Kejagung (2014), nama Sunarta pun semakin dikenal publik lantaran kehadirannya sebagai komandan pelaksanaan eksekusi mati para bandar narkoba di Indonesia.

Sukses melaksanakan eksekusi mati, Sunarta dipercaya menjadi Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Sulawesi Selatan (2016). Dari Sulsel, dirinya kembali diberi amanah menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sunarta mengaku saat menjadi Kajati NTT menikmati harmonisasi antara atasan dengan bawahan, rasa kekeluargaan yang kental dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi, sehingga menghasilkan output yang diharapkan oleh pimpinan, khusunya untuk kemakmuran masyarakat NTT serta kepastian hukum bagi masyarakat pencari keadilan.

Tak hanya di bidang hukum saja Sunarta dinilai sukses, namun juga soal toleransi keagamaan. Sebagai seorang muslim yang memimpin anak buah yang mayoritas Nasrani, Sunarta tak pernah minta dihormati. Dirinya selalu memakai musyawarah untuk mufakat sebagai landasan terpenting dalam menentukan langkah terkait masalah kerohanian.

Dia teringat saat berhasil mendirikan mushola di Kantor Kejati NTT, yang tak lain melalui musyawarah dengan seluruh anak buahnya. Mereka bahu membahu dan tak segan membantu materi maupun moril serta tenaganya demi berdirinya mushola tersebut. Demikian juga saat perayaan hari besar Nasrani seperti Natal, mereka bersama-sama mendirikan pohon Natal di halaman kantor.

“Jadi tidak benar kalau ada yang bilang bertugas di NTT itu sama juga Nasib Tidak Tentu, sebaliknya yang benar adalah NTT itu berarti Nikmat Tiada Tara,” kata Sunarta.

Setelah hampir dua tahun bertugas di Kejati NTT, Sunarta pada tahun 2018 kembali mendapat pronosi sebagai Kajati Jawa Timur, setahun kemudian (2019) menjadi Sekretaris Jaksa Agung Muda Intelijen (Sesjamintel) Kejaksaan Agung, lalu menjadi Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) Kejagung (2020) dan pada tahun yang sama menjadi Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Kejagung (2021) hingga akhirnya dipercaya oleh Presiden Jokowi menjadi Wakil Jaksa Agung (2022).

Dalam kesehariannya, Sunarta tak pernah melepaskan sedikitpun kesederhanaan yang dimilikinya sejak lahir. Dirinya pun senantiasa mempraktekan berbagai filosofi hidup yang didapatkannya sejak kecil maupun semasa kerja di berbagai daerah. Karena baginya, filosofi hidup itu semacam pelajaran.

“Termasuk filosofi jempol yang banyak mempengaruhi kinerja saya dalam mengemban amanah sebagai seorang hamba penegak hukum,” ucap Sunarta.

Filosofi JEMPOL yang diyakininya dalam mengemban tugas dimanapun dirinya ditempatkan adalah Jujur, Eling (selalu ingat), Mituhu (taat), Prigel (tangkas/mampu), Open/Ober (murah) dan Legowo (ikhlas).

Menurutnya, seorang pemimpin harus memiliki sifat jujur kepada siapapun, termasuk kepada anak buahnya akan keterbatasan terhadap sebuah kemampuan, jujur juga terhadap diri sendiri.

Sedangkan Eling artinya dalam tingkah laku seorang pemimpin itu selalu ingat bahwa ada yang mengawasi. Kalau bukan atasannya, masih ada Allah SWT yang juga melihat tingkah polahnya.

Mituhu artinya pemimpin juga harus taat akan aturan yang dibuat dan disepakati, sehingga tidak ada yang namanya pemimpin bebas melanggar aturan yang dibuatnya.

Prigel maksudnya bahwa seorang pemimpin juga harus punya skill untuk memimpin dan pengetahuan luas, agar tidak lagi tergantung pada kemampuan anak buah.

Sedangkan makna pada Open atau Ober dapat diartikan murah hati suka menolong dan tidak sombong. Sedangkan legowo berarti bahwa seorang pemimpin harus memberikan keteladanan dan ikhlas dalam membantu dan mengembangkan anak buahnya untuk suatu saat menggantikan dia.

Bagi pria yang meraih gelar S3 di Universitas Pasundan, Bandung, Jawa Barat, dengan predikat cumlaude ini memaknai jempol sebagai salah satu bagian dari tubuh manusia yang sarat makna dan nilai filosofi. Tanpa jempol, tidak bisa menggenggam atau memegang suatu benda dengan kuat. Keberadaan jempol membuat empat jari lainnya lebih produktif. Maksudnya, jempol tidak akan kuat kalau hanya sendiri, demikian pula empat jari lainnya tidak kuat jika tanpa jempol.

“Karena itu, jempol merangkul empat jari lainnya untuk melakukan aktifitas secara bersama-sama. Semua aktifitas yang dilakukan oleh jempol karena dorongan kemurahan hati (greatfulness) dan pikiran sehat (senses). Bila diacungkan berarti si pemilik jempol bersyukur kepada Tuhan, juga bisa dimaknai menggerakkan atau mengubah orang lain agar bisa menjadi orang yang maju, hebat, berpikiran positif dan terbuka. Semuanya jika direnungkan, kita akan mendapatkan rangkaian kata indah yang sarat makna bahwa jempol adalah jari yang netral, yang bisa bersahabat dengan jari lainnya.”

Dalam kesehariannya, Sunarta tetap menjaga hubungan dengan Allah (hablumminallah) dan hubungan sesama manusia (hablumminannas) sama pentingnya. Sehingga dalam memberi pelayanan kepada masyarakat, tidak perlu bekerja dengan iming-iming mendapat pujian dari pimpinan. “Karena jika kita bekerja dengan baik, niscaya Allah akan membalasnya,” ungkap Sunarta.

Sebagai orang yang telah kenyang pahit manisnya hidup, membuat ayah empat anak ini selalu mengedepankan profesionalitas dalam bekerja. Dirinya tak mau jika hasil kerja keras dalam menggapai cita-citanya hilang hanya karena kerja yang tak sesuai dengan peraturan dan petunjuk pimpinan.

“Kerja harus profesional, proporsional dan mengedepankan hati nurani. Karena menegakkan hukum tanpa hati nurani ya sama saja dengan robot. Hidup ini terus mengalir, yang buruk ambilah hikmahnya, kejadian yang baik harus diperhatikan,” tutur Sunarta. (syamsuri/bet)