Kasus Penganiayaan Siswa SMA oleh Oknum Polisi di Kupang Berujung Damai, Propam Terus Dalami

Kasus Penganiayaan Siswa SMA oleh Oknum Polisi di Kupang Berujung Damai, Propam Terus Dalami

KUPANG, PENATIMOR – Kasus dugaan penganiayaan oleh dua oknum polisi di Mapolsek Amarasi, Polres Kupang, terhadap seorang siswa SMA berujung damai.

Para pihak telah bersepakat menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan. Korban pun telah mencabut laporan pengaduan di Bidang Propam Polda NTT.

Perdamaian dilakukan di ruangan sidang Bidang Propam Polda NTT, Kamis (8/6/2023) petang.

Saat itu, korban RO (17) bersama ibunya dipertemukan dengan Aipda Erik dan rekannya Ferdy yang pihak teradu.

“Terkait persoalan ini, kami bersepakat untuk menyelesaikan secara kekeluargaan,” kata RO saat diwawancarai di Mapolda NTT.

Sementara, Kapolsek Amarasi Ipda Thomas M.W. Radiena, membenarkan kalau korban dan kedua anggotanya telah berdamai, dan menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.

“Tadi di ruang sidang Propam, korban didampingi ibu dan opa nya. Kita berbicara dari hati ke hati, lalu korban menerima untuk damai,” kata Kapolsek.

Terkait dengan tindakan yang dilakukan oleh kedua anggotanya, Thomas mengaku segera akan melimpahkan kepada Propam Polres Kupang untuk ditindaklanjuti sesuai aturan yang berlaku.

“Untuk perkembangan terkait kedua anggota, akan saya sampaikan nanti,” terangnya.

Masih menurut Kapolsek, pasca kejadian tersebut, dirinya langsung menegaskan kepada seluruh anggotanya agar setiap mengambil tindakan harus sesuai prosedur yang berlaku.

“Ini juga merupakan pengalaman, sehingga nanti kedepan tidak terulang kembali peristiwa seperti ini,” tandas mantan anggota Paminal Polresta Kupang itu.

Terpisah, Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol. Ariasandy, menyebut laporannya diterima dan ditindaklanjuti Propam, dan apabila terbukti maka akan ditindak tegas.

“Terhadap laporan yang sudah dicabut atas dasar kesepakatan damai dan diselesaikan secara kekeluargaan, nantinya akan dilihat kembali apakah laporan ke Propam itu dicabut juga atau tidak. Ya, kita lihat apa laporan ke Propam nya masih lanjut atau dicabut juga, karena untuk menindak anggota adalah kewenangan ankum, dalam hal ini Kapolsek, Kapolres dan Kapolda,” jelas Kabidhumas Polda NTT.

Diberitakan sebelumnya, seorang siswa SMA Negeri di Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang diduga dianiaya dua oknum polisi di Mapolsek Amarasi.

Kasus ini bermula dari laporan pengaduan seorang karyawati Koperasi Mekar, Rabu (7/6/2023).

Atas pengaduan tersebut, oknum polisi Polsek Amarasi menjemput korban di sekolah, saat sementara mengikuti ulangan kenaikan kelas.

Korban RO mengaku setelah dijemput dan dibawa ke Polsek Amarasi, dirinya dianiaya oleh kedua oknum polisi bernama Erik dan Ferdy.

Saat di Mapolsek Amarasi, korban mengaku disuruh meminum ampas kopi milik anggota polisi. Korban juga dipukul, dan selembar uang dimasukan ke mulut korban.

Menurut korban, dirinya diinterogasi oleh oknum polisi karena telah mengatakan kepada si wanita pegawai Koperasi Mekar, “Tidak ada harga diri”.

Namun korban mengaku tidak pernah mengatakan hal tersebut kepada si pegawai Koperasi Mekar. Atas kejadian penganiayaan, korban datang melaporkan ke Bidang Propam Polda NTT. (wil)