HIDUP INI ADALAH KESEMPATAN (Sebuah Refleksi Teologis dalam Kitab Pengkotbah)

HIDUP INI ADALAH KESEMPATAN (Sebuah Refleksi Teologis dalam Kitab Pengkotbah)

Oleh: Damianus Moruk (Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia –Kupang)

“Hidup ini adalah kesempatan. Hidup ini untuk melayani Tuhan.

jangan sia-siakan  waktu yang Tuhan bri, hidup ini harus jadi berkat.

Oh Tuhan pakailah hidupku, selagi aku masih kuat, bila saatnya nanti,

ku tak berdaya lagi. Hidup ini sudah jadi berkat”.

Pujian ini sangat familiar dikalangan kekristenan saat ini. Hampir disetiap momen ibadah sering sekali terdengar kata “hidup ini adalah kesempatan”.  Buat saya kalimat ini bukan sekedar pujian semata. Memang benar hidup  ini adalah kesempatan. Kesempatan yang Tuhan beri sangat singkat oleh sebab  itu jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri. Yoh 9:4 mengatakan bekerjalah selagi hari masih siang sebab akan datang malam orang tidak bekerja lagi.  Jika demikian maka jangan tunggu hari hari malam sebab tak seorang pun tahu kapan ajal menjemput.

Nats Firman dalam Kitab Pengkotbah ini, adalah sebuah refleksi teologis tentang hidup ini adalah kesempatan. Apa maksud penulis kitab ini bagi kehidupan kita.  Kitab ini berbicara tentang upaya menemukan makna hidup. Penulis kitab ini melihat dari sudut pandang manusia bahwa hidup ini sarat dengan kontrakdiksi dan misteri. Kerja keras adalah pemberian Allah(5:19), tetapi pekerjaan bisa menuyusahkan  dan sia-sia(2:17), sebab setelah mati, orang tidak mempunyai apapun yang dapat diperlihatkan sebagai bukti kerja kerasnya(5:13-15), dan orang lain yang akan menikmati kekayaan mereka(6:2), ketika seseorang miskin , tidak ada yang memberi perhatian kepadanya (9:16), tetapi menjadi orang kaya juga tidak menjamin kebahagiaan(2:4-11, 5:10-12). Hikmat lebih baik dari kebodohan, tetapi baik orang berhikmat maupun orang bodoh, semuanya akan mati(2:13-16, 3:20). Mempunyai pengtahuan yang banyak juga menyusahkan(1:18). Diatas segalanya, hikmat manusia tidak dapat menolong siapapun untuk mengerti  jalan Allah(8:17) yang membuat  segala sesuatu terjadi (3:11, 6:10; 7:13-14; 9:1). Manusia harus menghormati dan menaati  Allah(5:7,8:12-13,12:13); ia akan menghakimi mereka(12:4; 3:17). Hal yang sama juga akan dialami oleh semua orang, baik mereka yang hidup benar maupun yang berdosa(9:2).

Dengan hidup yang penuh kontradiksi, dimanakah manusia dapat menemukan  makna hidup? tidak heran jika sebagian pembaca berpikir bahwa Kitab PENGKOTBAH tidak mempunyai pengharapan dan tidak memberi jawaban berkaitan dengan makna hidup. Namun, ada pula yang melihat adanya harapan dan jawaban dalam ajakkan yang diulangi oleh penulis untuk menikmati hidup sebangai satu pemberian Allah atau dengan kata lain hidup ini adalah kesempatan(2:24-26).

Penulis menghadapi realita kehidupan dan melihat betapa sia-sianya hidup bagi manusia yang hidupnya terlepas dari Allah sebab  dengan pengertian yang terbatas. Namun, ia juga menyadari anugrah Allah dan menemukan sukacita di dalamnya. Ia tidak dapat memahami Allah yang penuh dengan rahasia, tetapi ia tahu bahwa Allah mengatur masa depan , sebab itu ia berharap pada Allah dan mendorong orang lain untuk takut akan Allah  dan memelihara hukumNya.

Makna Refleksi Dari Bacaan Ini Adalah:

Pertama: Maknai Hidup Dengan Baik

Ungkapan “ada masanya”  dalam ayat 1: ini berarti bahwa Allah memengang kendali atas apa yang terjadi dan waktu terjadinya(3:11, 14-15; 6:10, 8:6, 9:1; lihat juga Amsal 16:1-9). Angkah “tujuh” bermakna “lengkap” . disini kita dapat melihat bahwa setiap ayat mempunyai pasangan berlawanan, semuanya berjumlah tujuh pasang.  Jadi,   ini mungkin dimaksudkan untuk menggambarkan seluruh perjalanan hidup.

Kepenuhan dan kesempurnaan. Angkah tujuh dianggap angka keramat dalam banyak budaya kuno. Berdasarkan kisah penciptaan dunia, satu minggu  terbagi menjadi tujuh hari (Kej 1:1-2:3). Hari ketujuh adalah hari yang dikuduskan (sabat). (Kel 20:8-11). Tanah tidak boleh digarap pada tahun ketujuh (tahun sabat) (Kel23:10-11). Setiap tahun ke 50 (7×7+1), orang Israel merayakan Yobel, tahun pembebasan dan pengampunan (Im 25:8-55). Perlengkapan dan ruangan Bait Allah terbagi atas tujuh bagian (I Raja-raja 7:17; Yehz 40:22,26 # darah hewan kurban harus dipercikan tujuh kali dalam upacara persembahan. Im 4:6,17, 14:7; Bil 19:4#. Jumlah beberapa hal atau barang yang disebut dalam kitab Wahyu(kaki dian, bintang, jemaat, materai, sangkakala,cawan. (Why 6-11, 15-16#. Menurut Yesus, kita harus memaafkan orang lain sebanyak tujuh kali tujuh kali atau tujuh puluh kali(Mat 18:21-22).

Kedua: Untuk Hidup Yang Baik “Ada Waktunya

Pada waktunya. . . memberikan kekekalan  dalam hati mereka: penulis mengatakan bahwa tindakkan Allah dan waktunya selalu benar(3:2-8). Namun, manusia tidak dapat memahami perbuatan Allah sepenuhnya sebab Allah sudah menaruh “kekekalan” dalam pikiran mereka. Kata Ibrani yang diterjemahkan “kekekalan” sulit ditafsirkan.  Ada yang mengartikan sebagai suatu pencarian akan keabadian dalam hidup yang fana. Adapula yang mengartikan sebagai  suatu pertanyaan “kekal” dalam hati manusia. Jika ini yang dimaksudkan, artinya pengetahuan manusia terbatas, dan itu menghasilkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab.

Demikianlah uraian / pembahasan ini, singkat namun penuh makna dan misteri bahwa sesungguhnya hidup ini ibarat uap yang sebentar saja ada sesudah itu hilang lenyap ataupunibarat  bunga yang mekar pada pagi hari, siang layu, demikianlah hidup in. Tiada yang dapat mengetahui berapa lama ia akan hidup didalam dunia ini sebab hidup ini ada masa dan waktunya. Sebabhidup ini sama dengan uap air yang kelihatan sebentar sesudah hilang ditiup angin atau hidup ini seperti sekuntum bunga yang mekar pada waktu pagi tapi sesudah itu layu dan di buang. Inilah waktunya kembalilah kepada Tuhan. Amin. (*)