Kolaborasi Tematik Kunci Transformasi Digital Bank NTT

Kolaborasi Tematik Kunci Transformasi Digital Bank NTT

KUPANG, PENATIMOR – Kolaborasi tematik dengan semua pihak menjadi kunci utama Bank NTT dalam melakukan transformasi digital.

Hal ini dikarenakan kondisi geografis Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berpulau-pulau dengan rasio kelistrikan baru mencapai 99% dan belum semua wilayah memiliki layanan komunikasi.

“Kolaborasi dengan semua pihak menjadi kunci bagi Bank NTT melakukan Transformasi Digital karena kondisi geografis NTT yang berpulau-pulau di mana rasio kelistrikan baru  99% dan rasio sarana BTS (base transceiver system) belum menjangkau semua wilayah,” kata Direktur Utama Bank NTT Harry Alexander Riwu Kaho, saat menjadi pembicara pada acara peluncuran buku digital “Panduan Transformasi Digital Bank di Indonesia” secara webinar, Jumat (5/11/2021).

Karena itu kata Harry Alexander Riwu Kaho, Bank NTT bekerjasama dengan vendor agar menyediakan layanan komunikasi sampai ke desa-desa baik lewat program perbankan, sosial dan pariwisata.

Apalagi kata dia, setelah pemerintah pusat mulai menggencarkan pembangunan ke wilayah timur Indonesia sehingga pembangunan infrastruktur mulai tersedia. Layanan perbankan Bank NTT saat ini telah menjangkau 222 wilayah di seluruh NTT.

Luncurkan E-Book

Sebelumnya, Intellectual Business Community bersama Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) dan Perbanas Institute melakukan peluncuran buku digital “Panduan Transformasi Digital Bank di Indonesia”.

Buku yang ditulis oleh Dr. dr. Bayu Prawira Hie, MBA., ini diluncurkan melalui webinar, Jumat (5/11/2021) dan dibagikan secara gratis bagi seluruh peserta.

Dalam peluncuran tersebut, Bayu menyatakan bahwa bank di Indonesia harus segera meningkatkan tingkat kematangan digital dalam dimensi tatanan institusi dan manajemen risiko yang dinilai terendah di antara 6 dimensi yang dievaluasi OJK.

Penilaian tersebut tercantum dalam Cetak Biru Transformasi Digital Perbankan yang diluncurkan tanggal 28 Oktober minggu lalu. Bayu berharap buku setebal 260 halaman tersebut bisa mendukung meningkatnya kematangan digital dimensi tatanan institusi bagi semua bank di Indonesia.

Karena itu dia membagikan bukunya secara gratis kepada semua peserta, dan semua pihak yang memerlukannya, sebagai kontribusi terhadap dunia perbankan Indonesia.

Acara peluncuran buku ini diisi dengan Webinar yang membahas dua topik. Topik pertama adalah Efisiensi Operasional Bank dengan Digitisasi yang diisi oleh bagi pengalaman oleh Direktur IT dan Operasional Bank BNI YB Hariantono, Direktur Utama Bank BJB Syariah Indra Falatehan, dan Direktur IT dan Operasional Bank Sahabat Sampoerna Liliana Lie.

Topik kedua adalah Tantangan dan Peluang Bank Pembanguan Daerah (BPD) dalam Transformasi Digital yang diisi bagi pengalaman oleh Direktur Utama Bank Kalteng Yayah Diasmono, Direktur Utama Bank NTT Alexander Harry Riwu Kaho, dan Hermawan Thendean yang pada tahun 2014-2019 menjabat sebagai Executive VP Bank BCA untuk Teknologi Informasi yang memberi cara merombak sistem TI yang paling efisien yang sangat dibutuhkan semua bank dalam bertransformasi digital.

Sementara Keynote Speech disampaikan Direktur Eksekutif dari Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda). Dr. dr. Bayu Prawira Hie, MBA sendiri berperan sebagai moderator acara.

Bayu menyampaikan, faktor tantangan bagi bank konvensional adalah struktur biaya yang tinggi dan hal inilah yang bisa diefisienkan dengan digitisasi, oleh karena itu maka topik pertama Webinar ini menjadi penting.

Sedangkan alasan pemilihan topik kedua menurut Bayu adalah karena BPD merupakan pemain kunci dalam mendukung UMKM provinsi, yang menjadi sokoguru perekonomian nasional.

Tantangan BPD yang umumnya termasuk kriteria KBMI 2 adalah antara lain bagaimana memenuhi kebutuhan berinvestasi seefisien mungkin dalam transformasi digital ini. Dengan bertransformasi digital, diharapkan BPD akan bisa berperan lebih besar untuk mendukung UMKM provinsi.

Ia kembali menyatakan “Bank harus kembali kepada misi dasarnya, yaitu sebagai katalisator pergerakan ekonomi. Bank nasional sebagai katalis ekonomi nasional, dan BPD sebagai katalis ekonomi daerah. Hendaknya transformasi digital ini membawa bank kembali kepada misi dasar tersebut,” paparnya.

Bayu Prawira Hie yang merupakan Doktor pertama di Indonesia dalam bidang transformasi digital ini berharap karyanya menjadi panduan untuk para bank di Indonesia untuk meningkatkan dimensi tatanan institusi yang masih dinilai rendah oleh OJK melalui kepemimpinan transformasi digital.

Menurutnya, buku ini bukan hanya memberikan konsep, tapi juga cara mengukur kematangan digital, karena apa yang tidak bisa diukur, tidak bisa ditingkatkan.

“OJK sudah membuat Cetak Biru Transformasi Digital Perbankan Indonesia, karena itu para pemimpin Bank juga perlu membuat Cetak Biru Transformasi Digital bagi Bank yang dipimpinnya,” pungkas Bayu. (*/wil)