Ombudsman Dukung Kejati NTT, Minta Mafia Beras Dituntut Berat

Ombudsman Dukung Kejati NTT, Minta Mafia Beras Dituntut Berat

KUPANG, PENATIMOR – Proses hukum kasus dugaan korupsi terkait mafia beras di Perum Bulog NTT mendapat perhatian khusus dari Ombudsman NTT.

Kepala Perwakilan Ombudsman NTT Darius Beda Daton yang dikonfirmasi media ini, Selasa (14/5/2024), memberikan dukungan penuh kepada penyidik Pidsus Kejati NTT untuk mengungkap kasus ini hingga terang benderang, dan memberikan hukuman berat kepada para pelaku yang terlibat.

“Kita dukung Kejati proses hukum oknum pegawai Bulog di NTT yang nakal. Urusan beras tidak boleh main-main karena itu menyangkut hidup-mati warga,” tandas Darius.

“Kita juga mendukung Kejati untuk tuntut oknum pegawai Bulog yang nakal dengan tuntutan hukum yang terberat,” lanjut dia.

Untuk diketahui, tim penyidik Bidang Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur mengungkap fakta baru dari penanganan kasus dugaan korupsi penyelenggaran Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tahun 2023 pada Perum Bulog Kantor Cabang Waingapu, Kabupaten Sumba Timur.

Dimana, terungkap adanya dugaan beras premium palsu yang didistribusi oleh Perum Bulog ke masyarakat. Terhadap dugaan kasus ini, penyidik Tipidsus telah melakukan penyelidikan secara terpisah.

Kepala Seksi Penyidikan, Salesius Guntur, SH., yang dikonfirmasi media ini, Jumat (3/5/2024), mengatakan, penyelidikan baru tersebut terkait dengan dugaan pengadaan fiktif beras premium oleh Perum Bulog di NTT.

“Penyelidikan baru ini terkait dengan pengadaan fiktif beras premium oleh Perum Bulog, untuk seluruh wilayah NTT,” terang Salesius.

“Banyak fakta baru yang kami temukan, sehingga untuk kasus ini kami telah lakukan penyelidikan sendiri,” lanjut dia.

Salesius melanjutkan, temuan penyidik saat ini adalah adanya dugaan pengadaan fiktif beras premium yang menelan biaya sebesar Rp 5 miliar.

“Jadi di Bulog ini dibuat seolah-olah ada pengadaan beras premium, tapi ternyata tidak ada pengadaan. Oknum di Bulog ini mengambil beras medium atau beras lokal dari masyarakat, lalu dikemas ulang menggunakan kemasan beras premium, dan dijual sesuai harga premium,” beber Salesius.

“Dari penjualan beras premium palsu ini, mereka mengambil keuntungan yang signifikan dari selisih harga besar medium dan premium,” imbuhnya.

Masih menurut Salesius, penyelidikan kasus ini akan dilakukan secara menyeluruh di wilayah NTT, mengingat masing-masing kantor cabang Bulog mendapat kuota cadangan beras pemerintah untuk stabilitasi harga.

“Jadi penyelidikan ini untuk seluruh NTT, karena dugaan kami motif nya hampir sama semua,” ungkap Salesius. (bet)