Ditpolairud Polda NTT Ungkap Bunker Bahan Pembuatan Bom Ikan

Ditpolairud Polda NTT Ungkap Bunker Bahan Pembuatan Bom Ikan

KUPANG, PENATIMOR – Direktorat Polairud Polda NTT berhasil  mengungkap bunker bahan pembuatan bom ikan di Pulau Pemana, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT pada 24 Juni 2023.

Dari bunker tersebut, polisi menyita barang bukti berupa 11 detonator, 101 karung pupuk tanpa merk yang digunakan sebagai bahan utama pembuatan bom ikan. Polisi juga mengamankan seorang tersangka berinisial AA.

Direktur Polairud Polda NTT Kombes Nyoman Budiarja, S.I.K.,M.Si., kepada awak media, mengatakan, kasus yang diungkap jajaran Ditpolair di Kabupaten Sikka ini, berawal dari pengungkapan jual beli detonator beserta 2 kilogram pupuk di sekitar Pantai Palo, Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

“Detonator itu akan dijual ke Adonara dari seseorang berinisial M, kemudian dilakukan pengembangan dan kita bisa mengungkap ada 101 karung atau sekitar 2.489kg bahan pupuk yang letaknya di Pulau Pemana, dalam dua bunker,” jelas Dirpolair yang didampingi Kabid Humas Polda NTT Kombes Ariasandy, S.I.K.

Pada kasus pertama, jelas Dirpolair, polisi berhasil menemukan barang bukti berupa 11 batang detonator, 2 bungkus plastik warna hitam berisikan serbuk putih seberat 2kg, 1 buah HP, 1 buah sepeda motor, dan 1 buah jaket.

Penangkapan ini dilakukan oleh anggota kapal Ditpolairud yang bertugas di daerah perairan Larantuka, lalu dikembangkan oleh Subditgakkum Ditpolairud Polda NTT.

Menurut keterangan tersangka bahwa bahan bom ikan ini sudah biasa diperjual belikan sejak lama menggunakan kapal, mulai dari wilayah NTB hingga Sulawesi Selatan.

“Pada saat menemukan lokasi dari pupuk ini, kita juga menyita satu unit kapal motor bernama Karisma, sebagai alat sarana yang digunakan untuk mengangkut pupuk ini. Pupuk ini diperjual belikan di selat Gili Banta, dimana dihargai Rp2 juta per karung. Sedangkan harga jual di Pulau Pemana Rp2,3 juta, dan dijual eceran harganya Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per kilo,” beber Dirpolariud.

Sementara itu, bunker di Pulau Pemana sebagai titik awal dari pendistribusian untuk wilayah Pulau Bajo, Sape dan sampai wilayah NTT lainnya.

“Barang tersebut diedarkan sampai ke Pulau Bajo, Sape, Kabupaten Bima, Pulau Sumba, Adonara, Lamakera (Flotim), Pulau Buaya (Alor), Lembata, Rote, Semau, utara Flores Ende, Pulau Madu Kabupaten Selayar-Sulsel dan Pulau Sabalanga Kabupaten Selayar Sulsel,” imbuhnya.

Untuk tersangka AA dikenai Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat Nomor 12 tahun 1951 tentang Senjata Api dan Bahan Peledak, dan juga melanggar Pasal 122 jo Pasal 73 Undang-Undang Nomor 22 tahun 2019 tentang Sistem Budaya Berkelanjutan. (wil)