Seorang Siswa SMA di Kupang Babak Belur Dianiaya 2 Oknum Polisi di Mapolsek Amarasi, Disuruh Minum Ampas Kopi

Seorang Siswa SMA di Kupang Babak Belur Dianiaya 2 Oknum Polisi di Mapolsek Amarasi, Disuruh Minum Ampas Kopi

KUPANG, PENATIMOR – Seorang siswa SMA di Kabupaten Kupang diduga dianiaya dua oknum anggota polisi di Polsek Amarasi, Polres Kupang, Polda NTT.

Korban yang diketahui bernama Ricky Ola (17) diduga dianiaya oleh dua oknum polisi bernama Erik dan Ferdy.

Kasus ini terjadi di Polsek Amarasi pada Rabu (7/6/2023) siang.

Atas kejadian tersebut Ricky datang melapor kejadian tersebut di Sentra Pelayanan Pengaduan Terintegrasi pada Bidang Propam Polda NTT.

Korban Ricky Ola kepada awak media, membeberkan kronologi kasus yang dialaminya.

Bermula pada Rabu (7/6/2023), saat dirinya sementara mengikuti ujian di sekolah, kemudian didatangi oleh oknum polisi bernama Erik dan kemudian membawanya ke Polsek Amarasi.

Korban mengaku tidak tahu kenapa dirinya tiba-tiba dipanggil dan dibawa ke Polsek Amarasi.

Saat baru sampai di Mapolsek Amarasi, korban langsung disuruh meminum ampas kopi dan ditampar sebanyak dua kali di kepala bagian belakang.

Korban juga mengaku disuruh untuk mengaku karena telah menganggu dua wanita petugas koperasi.

Namun korban mengaku tidak pernah melakukan hal itu.

Tidak sampai disitu. Dua oknum polisi tersebut memasukan korban ke dalam sel selama 25 menit, lalu korban dikeluarkan dan disuruh berlutut.

Korban juga mengaku ditampar di bagian wajah sehingga bibirnya luka dan bengkak.

“Kedua kaki saya juga ditendang mereka yang mengenakan sepatu boneng. Saya dibuat seperti bintang,” beber korban yang duduk di bangku kelas XI SMA itu.

Parahnya lagi, salah satu oknum polisi mengambil uang sebesar Rp50.000 lalu menyuruh korban untuk memakan uang tersebut.

Korban juga disuruh berdiri untuk menghormat tiang bendera sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya, setelah itu korban disuruh pergi ke kios untuk membeli biskuit.

Tetapi karena merasa takut, akhirnya korban langsung pulang ke rumah untuk memberitahukan orangtuanya.

Setelah kejadian tersebut, korban mengaku dirinta bersama dengan pihak keluarga ke Polsek Amarasi untuk mempertanyakan perlakuan kedua oknum polisi, namun tidak ada yang mau mengakui perbuatan mereka.

Sehingga korban bersama dengan ibunya datang mengadukan ke Propam Polda NTT untuk diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. (wil)