Bocah Yesua Nabu Tegaskan Ayahnya Bukan Pelaku Bom Ikan di Semau

  • Bagikan
Bocah Yesua Nabu Tegaskan Ayahnya Bukan Pelaku Bom Ikan di Semau

KUPANG, PENATIMOR – Yesua Nabu, anak kandung dari FN (39) selaku terduga pelaku bom ikan yang diamankan pihak Ditpolairud Polda NTT mengungkap fakta sebenarnya.

Bocah berusia 9 tahun itu menyatakan ayahnya bukan pelaku bom ikan di perairan Uiasa, Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang, NTT.

Yesua membeberkan fakta ini karena saat itu dirinya ikut melaut bersama ayahnya FN, dan mengetahui persis semua yang terjadi.

“Yang bom ikan itu om Son Neno, sedangkan yang taruh bom di atas sampan bapak saya adalah Aldi Timung,” kata Yesua Nabu ketika diwawancarai awak media ini pada Rabu (18/1/2023) siang.

“Jadi bukan bapak yang bom, tapi om Son Neno, karena saat itu kami hanya pukat saja. Lalu om Aldi Timung yang taruh bom di kami punya sampan,” lanjut dia.

Yesua mengurai kronologi kasus ini, dimana bermula karena kehabisan beras, maka ayahnya FN mengajaknya ke laut untuk memukat ikan.

Setelah sampai di laut, mereka langsung membuang pukat saat melihat banyak kawanan ikan bergerombol.

Usai memukat ikan, mereka lalu membersihkan pukat tersebut, dan tidak lama datang Aldi Timung dengan perahu dari arah belakang dan langsung menaruh bom di atas sampan milik FN.

“Karena pada saat itu saya dengan bapak sementara berada di dalam laut untuk bersihkan pukat, tidak lama kemudian saya lihat om Aldi sandar sampan dekat kami punya sampan, lalu dia langsung taruh bom di atas sampan kami. Pada saat itu saya mau beritahu bapak tapi takut,” urai bocah kelas 3 SD ini.

Lanjut Yesua, usai menaruh bom, Aldi Timung langsung kabur dengan sampan meninggalkan lokasi tersebut.

Tetapi tidak berselang lama datang kapal Ketintang, dan melakukan pemeriksaan di sampan FN dan ditemukan ada bom ikan.

“Pada saat diperiksa, mereka temukan itu bom ada dalam sampan kami yang lagi ditindih dengan pukat,” bebernya lagi.

Sementara Dorkas Massa (32) yang adalah istri dari FN, menambahkan bahwa suaminya berprofesi sebagai petani dan tidak tahu merakit bahan peledak, apalagi melakukan bom ikan.

Menurut Dorkas, selama ini FN hanya mencari ikan dengan cara memukat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Ikan hasil tangkapan dijual di kampung, dan hasilnya dipakai untuk beli beras dan kebutuhan anak-anak yang masih SD,” ungkap Dorkas.

“Terhadap masalah yang dialami suami saya, saya hanya butuh keadilan hukum,” pungkasnya. (wil)

  • Bagikan