Eddy Latuparissa Cs Segera Disidangkan, Kuasa Hukum: Ada Ketidakadilan Hukum

Eddy Latuparissa Cs Segera Disidangkan, Kuasa Hukum: Ada Ketidakadilan Hukum

KUPANG, PENATIMOR – Penyidik Unit Reskrim Polsek Alak, Polres Kupang Kota, telah melimpahkan tersangka dan barang bukti atau pelimpahan tahap II perkara dugaan tindak pidana pengeroyokan dengan tersangka Eddy Latuparissa cs kepada Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Kupang.

Pelimpahan tersebut dilakukan polisi setelah jaksa menetapkan berkas perkara telah lengkap (P-21) atau layak disidangkan di Pengadilan.

Tersangka Eddy Latuparissa yang juga adalah Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Nunbaun Delha (NBD) bersama dua tersangka lainnya, Calvin Latuparissa dan James Herri Wake segera diadili di Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Kupang.

Kuasa hukum ketiga tersangka, San Albrenus Fattu, SH., dan Petrus Ufi, SH., kepada media ini, Senin (17/1/2021), membenarkan pelimpahan tahap II perkara kliennya.

Ketiga tersangka juga sudah ditahan di Rutan Mapolsek Alak.

Namun demikian, kuasa hukum menilai ada diskriminasi atau ketidakadilan hukum dalam proses perkara dimaksud.

“Kami merasa ada ketidakadilan atau tebang pilih dalam proses hukum perkara ini,” kata San Albrenus Fattu kepada wartawan di Kupang.

Menurut dia, dalam kasus ini, sebelumnya kliennya Eddy Latuparissa juga sebagai korban penganiayaan oleh oknum anggota Polri bernama Bripda Randy Putera.

Kasus tersebut menurut dia, juga telah dilaporkan di Bidang Propam Polda NTT dan SPKT Polda NTT. Namun sampai saat ini belum ada tindak lanjut.

Sementara, Petrus Ufi, SH., menilai ada kejanggalan dan ketidakadilan dalam kasus ini, karena ada saling lapor oleh kedua pihak.

“Sampai hari ini kasus yang digenjot cuma tiga tersangka ini, yang dilaporkan oknum polisi Randy Putera di Polsek Alak. Sedangkan laporannya Eddy Latuparissa di Polda NTT, entah sudah naik status dari proses penyelidikan ke penyidikan, itu belum diketahui. Itu yang disayangkan dalam proses kasus ini,” tandas Petrus Ufi.

Menurutnya, kalau dilihat dari kasus ini terjadi pada saat itu dalam acara pesta, sedangkan masih dalam situasi pandemi Covid-19 dan PPKM Level 3 di Kota Kupang.

“Sebagai anggota polisi pada saat itu harus memberikan contoh, tidak boleh ada kerumunan dan sampai terjadi keributan di tengah-tengah masyarakat. Sehingga saya anggap tebang pilih dalam kasus ini, karena yang kasus satu sudah tahap P-21, yang satunya masih berjalan di tempat, sehingga kami menilai ada ketidakadilan di sini,” tegas Petrus.

Diberitakan sebelumnya, seorang anggota polisi di Polda NTT bernama Bripda Randy Putera diduga melakukan penganiayaan terhadap Eddy Latuparissa pada 13 Juni 2021.

Korban pun mengadukan perbuatan Bripda Randy ke Propam Polda NTT pada 14 Juni 2021.

Korban juga sudah melaporkan kasus penganiayaan ke SPKT Polda NTT sesuai Surat Tanda Terima Laporan Polisi (STTLP) Nomor: 250/VIII/2021/SPKT Polda NTT.

Eddy Latuparissa usai melaporkan kasus tersebut, mengatakan, kasus ini bermula pada 12 Juni 2021, dimana pada saat itu, ada acara peminangan salah satu ponakan Julian Hadjo dengan salah satu anggota polisi atas nama Aldo Raga Lau di rumah Putra Hadjo.

Saat itu menurut Eddy, dirinya sementara mengikuti zoom meeting, dan setelah mengikuti pertemuan itu, dirinya istirahat.

Namun sekira pukul 02.00 Wita, tanggal 13 Juni 2021, istrinya membangunkannya untuk mencari kedua anak perempuannya yang masih berada di tempat acara.

Sehingga Eddy pergi ke TKP yang berada persis di samping rumah terlapor itu kemudian langsung mencari kedua buah hatinya.

Saat tiba, ada anak perempuannya terlihat mabuk dan sedang dipeluk oleh pelaku.

Saat melihat hal itu, sebagai orangtua, Eddy tidak terima sehingga datang dan menarik anaknya agar segera pulang.

Namun pelaku yang hanya mengenakan celana pendek dan baju singlet langsung memukul korban di bagian wajah hingga jatuh tersungkur ke tanah, sehingga terjadi keributan.

Tetapi keributan tersebut segera dapat dilerai oleh warga sekitar, sehingga korban pun kembali ke rumah.

Namun terlapor ternyata melaporkan Eddy ke Polsek Alak atas sangkaan melakukan tindak pidana pengeroyokan.

Sementara, pada tanggal 14 Juni 2021, Eddy juga melaporkan perbuatan oknum polisi itu ke Propam Polda NTT dan dilakukan visum.

“Saya dipanggil sebagai saksi untuk diperiksa. Setelah melapor di Propam, mereka menyarankan untuk dilaporkan secara pidana,” kata Eddy.

Menurutnya, melihat kondisi tersebut, sebenarnya sebagai anggota polisi harus melindungi warga, apalagi melihat anak gadisnya sudah mabuk.

“Mereka malah membangunkan anak saya lalu memberikan minuman. Buktinya saat saya sampai, ada dua gelas minuman di tangannya dan saya tanya bandarnya ternyata mereka paksa, makanya saya langsung bawa anak saya pergi,” jelas Eddy.

Acara peminangan menurutnya sudah selesai, namun oknum anggota polisi tersebut datang lalu membuat kerumunan dan pesta miras.

“Mereka anggota polisi tapi tidak menerapkan prokes malah pesta miras sampai larut malam. Lurah dan RW sudah tegur tapi mereka mengaku anggota polisi jadi tidak apa. Saya sudah telepon Bhabinsa dan Bhabinkamtibmas tapi tidak merespon,” imbuhnya. (wil)