Dua Terdakwa Bebas, Jaksa Nilai Pertimbangan Hakim Tipikor Kupang Tidak Tepat

Dua Terdakwa Bebas, Jaksa Nilai Pertimbangan Hakim Tipikor Kupang Tidak Tepat

Kupang, penatimor.com – Mashiliano De Reviziis dan Mizardo Pabhio dibebaskan majelis hakim Pengadilan Tipikor Kupang, Rabu (7/7/2021) petang.

Dua pria asal negara Italia ini sebagai terdakwa perkara dugaan tindak pidana korupsi pengelolaan aset tanah seluas 30 hektare milik Pemkab Manggarai Barat (Mabar) di Labuan Bajo.

Vonis bebas sesuai amar putusan yang dibacakan Ketua Majelis Hakim Fransiska Paula Nino didampingi Hakim Anggota Nggilu Liwar Awang dan Gustaf Marpaung.

Alasan pertimbangan majelis hakim adalah keuntungan bisnis dengan Saniatma, sehingga hakim menilai tidak terbukti unsur kesengajaan pada terdakwa Pabhio dan Mashiliano.

Pertimbangan tersebut menurut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati NTT tidak tepat, karena terdakwa Pabhio dan Mashiliano masuk dalam pertimbangan sebagai pelaku turut serta (Pasal 55) di terdakwa Veronika Syukur.

Fakta hukum terungkap di persidangan, sehingga awal ditetapkan tersangka yaitu Pabhio dan Mashiliano yang mana adalah teman dekat Veronika Syukur yang merupakan makelar tanah.

Kasi Penkum Kejati NTT, Abdul Hakim, SH., mengatakan, awal tanah Pemda seluas 3 hektare dibeli oleh Pabhio dan Mashiliano melalui Veronika Syukur dan Andi Rizky dengan menggunakan alas hak palsu H. Sukri, Supardi Tahiya dan Suaib Tahiya.

“Ada pertemuan Pabhio dan Mashiliano, Veronika Syukur dan Supardi di notaris Theresia, dan mereka tau kalau dibuat AJB dengan pihak pengusaha Ayana. Seolah-tanah tanah itu dari H. Sukri, Supardi dan Suaib Tahiya,” kata Abdul Hakim.

Lalu, lanjut Abdul, terdakwa Pabhio dan Mashiliano membuka rekening di Bali lalu mengajak Veronika Syukur dan Supardi Tahiya untuk menerima pembayaran cek-cek dari Hotel Ayana sejumlah Rp 22 miliar.

Dari pembayaran Pabhio, Mashliano mendapat uang masing-masing Rp 5 miliar dan Rp 7 miliar, lalu dibagikan ke Veronika Syukur, dibayar ke Supardi Tahiya, Suab Tahiya dan H. Sukir sekira Rp 3 miliar dan sisanya dibagikan ke makelar tanah lainnya.

“Dalam aliran rekening Pabhio dan Mashiliano tampak aliran penarikan uang bahkan ke notaris Theresia sebesar Rp 1 miliar. Theresia oleh majelis hakim sudah terbukti bersalah. Jadi sangat jelas kerja sama meeting of mind dan unsur kesengajaannya,” tutup Abdul Hakim. (wil)