Terpidana Korupsi di TTU Memilih jadi Buron Agar Bisa Membiayai Kuliah Anaknya

Terpidana Korupsi di TTU Memilih jadi Buron Agar Bisa Membiayai Kuliah Anaknya

Kupang, penatimor.com – Frederikus Lopez, terpidana korupsi proyek peningkatan ruas jalan Haumeniana-Inbate (Jalan Desa Sunkaen) pada Badan Pengelola PerbatasanDaerah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) tahun anggaran 2013 akhirnya dieksekusi pihak Kejari TTU ke Rutan Kefamenanu.

Penangkapan dan eksekusi terpidana berdasarkan putusan Mahkamah Agung Nomor: 2859 K/PID SUS/2017.

Frederikus yang telah menjadi buronan selama 4 tahun, ditangkap tim penyidik Kejari TTU yang dipimpin Kasi Intel Benfrid Foeh, dibantu tim Kejagung RI pada Minggu (20/6/2021) sekira pukul 14.24 WIB bertempat di Jalan Ceger Raya depan Alfa Midi Cipayung, Jakarta Timur.

“Terpidana setelah ditangkap diamankan ke kantor Kejari Jakarta Barat untuk melaksanakan pemeriksaan kesehatan dan penyelesaian administrasi,” kata Kajari TTU, Roberth Jimmy Lambila, SH., MH., dalam jumpa pers di kantor Kejati NTT, Senin (21/6/2021) pagi.

Terpidana Korupsi di TTU Memilih jadi Buron Agar Bisa Membiayai Kuliah Anaknya
Kajari TTU Roberth Jimmy Lambila, SH.,MH., saat memberikan keterangan pers di kantor Kejati NTT, Senin (21/6/2021).

Tim penyidik, sekira pukul 02.30 WIB kemudian membawa terpidana Frederikus Lopez ke Kupang menggunakan penerbangan pesawat Batik Air dan tiba di Bandara El Tari sekira pukul 06.00 WITA.

Roberth sampaikan, putusan Kasasi Mahkamah Agung RI Nomor: 2859 K/PID SUS/2017 tanggal 12 Maret 2018, menjatuhkan pidana penjara kepada Frederikus Lopez selama 5 tahun dan denda sebesar Rp 200 juta, dengan ketentuan apabila tidak dibayar akan diganti dengan pidana kurungan 6 bulan.

Frederikus juga dihukum untuk membayar uang pengganti sebesar Rp 431.749.715 dengan ketentuan jika terdakwa tidak membayar uang pengganti dalam waktu paling lama satu bulan, maka harta bendanya dapat disita untuk menutupi uang pengganti tersebut. Dalam hal harta benda tidak mencukupi dipidana penjara selama 2 tahun.

Masih menurut Kajari TTU, terpidana Frederikus Lopez berperan sebagai pelaksana/penanggung jawab proyek bernilai kontrak sebesar Rp 2.103.862.000 dengan masa pelaksanaan pekerjaan 120 hari kalender, 3 Agustus 2013-3 November 2013.

Frederikus sebagai penanggung jawab pekerjaan yang menggunakan perusahaan milik Ahmad Icok Heriyanto selaku Kuasa Direktur CV Satu Hati.

“Saudara Frederikus ini merupakan salah satu dari enam terpidana dalam perkara ini. Lima terpidana yang lain sudah dieksekusi,” imbuh Roberth yang didampingi Asisten Intelijen dan Asisten Pidsus Kejati NTT.

Roberth juga mengucapkan terima kasih kepada Kejati NTT dan para pihak yang telah terlibat membantu memperlancar proses penangkapan terpidana ini.

Sementara, terpidana Frederikus Lopez saat diwawancara, mengaku dirinya nekat untuk tidak memenuhi panggilan jaksa dan memilih jadi buron karena ingin membantu anaknya menyelesaikan kuliah.

“Jujur saya bukan tidak mau penuhi panggilan jaksa, tapi kalau saya langsung penuhi kemarin, pasti anak saya putus kuliah. Sehingga saya lari bekerja di Jakarta, dan bersyukur saat anak selesai kuliah baru saya ditangkap,” kata Frederikus sembari menitikan air mata.

Frederikus selaku kontraktor pelaksana itu memilih ke Jakarta, setelah bebas demi hukum, lantaran masa penahanannya pada tingkat banding selesai, dan belum ada perpanjangan penahanan tingkat kasasi, sementara dia mengajukan upaya hukum kasasi ke Mahkamah Agung RI. (wil)