Prestasi Gemilang Kajari TTU Roberth Lambila, Baru 3 Bulan Sudah Garap 8 Kasus Korupsi

Prestasi Gemilang Kajari TTU Roberth Lambila, Baru 3 Bulan Sudah Garap 8 Kasus Korupsi

Kefamenanu, penatimor.com – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) benar-benar bersinar dalam tiga bulan terakhir.

Kajari TTU Roberth Jimmy Lambila, S.H.,M.H., bersama jajarannya memang menunjukan kinerja terbaik.

Kejaksaan yang berpusat di jantung negeri Biinmafo itu membuat publik tercengang.

Bagaimana tidak, baru tiga bulan menakhodai Kejari TTU, Roberth dan jajarannya sudah berhasil menorehkan capaian spektakuler.

Prestasi dalam penegakan hukum, khususnya pengungkapan dan penanganan perkara-perkara tindak pidana korupsi di Kejari TTU cukup menyita perhatian publik.

Tidak sedikit yang mengapresiasi dan memberikan dukungan kepada Roberth dan jajarannya agar memberangus para koruptor di Kabupaten TTU.

Dukungan terus mengalir dari berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, termasuk lembaga eksekutif dan legislatif.

Menurut mereka, kehadiran sosok Kajari seperti Roberth lah yang dinanti-nantikan selama ini, untuk membasmi koruptor yang sudah sangat merajalela di daerah itu.

Kehadiran pria asal Langkuru, Pureman – puncak tertinggi di Nusa Kenari, Alor itu- memang benar-benar mengobati kerinduan dan pergumulan masyarakat TTU selama ini, agar oknum-oknum yang selama ini menggerogoti uang negara secara ilegal bisa ditindak tegas.

Kini semua memberikan ekspektasi tinggi kepada Robert dan jajarannya. Itu karena dalam waktu singkat, yakni selama tiga bulan, Kejari TTU berhasil mengungkap dan menangani 8 perkara tindak pidana korupsi.

Bahkan kini sebagian besar perkara-perkara itu telah disidangkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Kupang.

Delapan perkara korupsi tersebut adalah dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (Alkes) di RSUD Kefamenanu yang mana Kejari TTU telah menahan tiga tersangka diantaranya Yoksan Bureni (PPK), Miguel Selan (PPHK) dan Ongky Manafe (Direktur CV. Berkat Mandiri).

Perkara Alkes dengan nilai kerugian negara Rp 425 juta telah disidangkan di Pengadilan Tipikor Kupang.

Selanjutnya, perkara dugaan korupsi pengelolaan anggaran dana desa (ADD) di Desa Naikake B, Kecamatan Mutis, Kabupaten TTU Tahun 2015–2020.

Dalam perkara dengan kerugian negara Rp 1,7 miliar ini, penyidik Kejari TTU menetapkan dua tersangka yaitu Herminigildus Tob selaku mantan Kades Naikake B dan Bendahara Desa Naikake B, Milkior Tob. Berkas perkara ini juga segera disidangkan di Pengadilan Tipikor Kupang.
Ada juga perkara dugaan korupsi pengelolaan ADD di Desa Litneo Selatan, Desa Botof dan Desa Birunatun yang sedang dalam tahap penyidikan oleh Kejari TTU.

“Jadi totalnya ada delapan perkara, dua perkara dengan lima tersangka dan tiga perkara lagi masih dalam proses penyidikan,” kata Roberth kepada wartawan di kantornya, Selasa (15/6/2021).

Menurut Roberth yang pernah dinobatkan sebagai jaksa terbaik se-Indonesia pada tahun 2016 silam itu, keberhasilan itu berkat kerja keras dan dukungan semua jajarannya, terkhususnya tim Intelijen dan Pidsus Kejari TTU.

“Saya apresiasi tim Pidsus dan Intelijen yang sudah bekerja maksimal. Semoga semangat ini terus dipertahankan. Hukum harus terus ditegakan dengan tetap mengedepankan kemanusiaan. Jadi penegakan hukum yang humanis,” kata Robert yang didampingi Kasi Intelijen Benfrid Foeh, S.H., dan Kasi Pidsus Andre Keya, S.H.

Selain gencar dalam penegakan hukum, Roberth yang punya segudang pengalaman dalam memimpin pengungkapan kasus-kasus korupsi besar di NTT ini juga terus mengedukasi masyarakat lewat program penerangan hukum yang unik dan berbasis teknologi informasi.

Harapannya masyarakat TTU bisa melek tentang hukum dan tentunya ikut bersama-sama mendukung pemberantasan korupsi.

“Saya terus meminta dukungan seluruh elemen masyarakat TTU agar bersama-sama memberantas korupsi di daerah ini, ” harap Roberth, orang Alor pertama yang menjabat Kajari itu. (sal)