Sidang Korupsi Tanah Labuan Bajo, Saksi Ungkap Status Gories Mere, Karni Eliyas dan Rudi Suliawan

Sidang Korupsi Tanah Labuan Bajo, Saksi Ungkap Status Gories Mere, Karni Eliyas dan Rudi Suliawan

Kupang, penatimor.com – Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kupang kembali menggelar sidang perkara dugaan tindak pidana korupsi pengelolaan aset negara di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Rabu (3/3/2021).

Sidang kali ini dengan agenda pemeriksaan saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum atas terdakwa Theresia Koro Dimu, Amrosius Syukur, Abdullah Nur, Marthen Ndeo, Muhammad Achyar, Afrizal alias Unyil, dan Caitano Soares.

Sidang dipimpin Majelis Hakim Wari Juniati didampingi Hakim Anggota, Ari Brabowo dan Ibnu Kholik.

Dalam persidangan, saksi H. Ramang Isahaka, menjelaskan bahwa Gories Mere memiliki vila di atas tanah seluas 30 hektare yang mana selain bangunan vila tersebut ada juga pondok serta mushola yang dibangun oleh Alm. H Adam Djudje.

Hal tersebut disampaikan saksi atas pertanyaan yang disampaikan oleh penuntut umum, yang mana menanyakan kepada saksi terkait dengan status kepemilikan tanah milik Gories Mere.

“Apakah saksi tahu, terkait vila milik pak Gories Mere di atas tanah tersebut,” tanya JPU.

Saksi Isahaka, menjawab bahwa vila yang berada diatas tanah Karanga milik Gories Mere, bukan lagi rahasia yang mana telah diketahui banyak pihak.

“Itu sudah menjadi pengetahuan umum bahwa lokasi atau tanah itu dimiliki beliau,” ungkap saksi Isahaka.

JPU kembali mempertanyakan bahwa tanah yang dimiliki oleh Gories Mere merupakan usahanya sendiri sehingga dapat mendapatkan tanah tersebut ataukah ada pihak lain yang mengatasnamakan Gories Mere.

“Apakah saksi tahu, adakah orang yang bertindak diatas pak Gories Mere, atau seperti apa yang saksi ketahui,” tanya JPU Hendrik Tiip.

Menjawab pertanyaan JPU, saksi menerangkan bahwa terkait hal tersebut dirinya tidak mengetahuinya.

“Kalau soal itu saya kurang tahu pak jaksa,” ucapnya.

Sementara itu penuntut umum kembali bertanya terkait dengan tanah kepemilikan Karni Eliyas.

“Apakah saksi tahu nama Karni Eliyas juga mendapatkan tanah di sana,” tanya Penuntut Umum.

Saksi Isahaka, kembali menerangkan bahwa, sesuai informasi yang diperolehnya, Karni Eliyas juga merupakan salah satu orang yang memiliki tanah diatas 30 hektare tersebut, namun luasan tanah milik Karni saksi tidak mengetahuinya.

“Dari informasi yang kami dengar juga, beliau salah satu orang yang mendapatkan atau mempunyai tanah di atas tanah tersebut, saya tidak tahu berapa luasannya,” terang saksi.

Jaksa penuntut umum kembali menanyakan kepada saksi apakah saksi mengetahui bahwa Rudi Suliawan, yang merupakan pemilik Hotel Ayana memiliki tanah di lokasi tersebut.

Saksi menjawab bahwa ia mengetahui bahwa Rudi Suliawan selaku pemilik hotel Ayana memiliki tanah beberapa bidang atas tanah 30 hektare tersebut.

“Kami mendengar informasi juga bahwa, beliau juga pernah membeli beberapa bidang tanah di lokasi tersebut,” ungkap saksi menjawab pertanyaan JPU.

Saksi kembali menjelaskan bahwa, Rudi Suliawan memiliki tahan tersebut yang mana telah dibelinya dari H. Sukri, Supardi Tahiya dam Suai Tahiya.

“Dari informasi yang kami dapatkan bahwa beliau (pemilik hotel Ayana), membeli tanah dari seseorang yang bernama haji Sukri, Supardi Tahiya, dan Suai Tahiya itu yang kami tahu,” kata saksi.

Turut hadir Jaksa penuntut umum, Herry C. Franklin, Boby Sirait, Hendrik Tiip dan Emerenciana Djehamat.

Sidang digelar secara virtual dimana para terdakwa didampingi penasehat hukumnya.

Sidang akan dilanjutkan pada Rabu (10/3/2021) pekan depan dengan agenda pemeriksaan lanjutan saksi. (wil)