Polemik Kepemilikan Lahan Pagar Panjang-Danau Ina Memanas, Victoria Anin Klaim sebagai Ahli Waris Sah

Polemik Kepemilikan Lahan Pagar Panjang-Danau Ina Memanas, Victoria Anin Klaim sebagai Ahli Waris Sah

Kupang, penatimor.com – Kembali memanas polemik saling klaim lahan tanah seluas 350 hektare (ha) lebih di Pagar Panjang, Kelurahan Liliba dan Danau Ina di Kelurahan Lasiana, Kota Kupang.

Hal ini karena pengakuan Marthen Konay yang menyebut bahwa sebagai ahli waris sah atas tanah seluas 350 (ha) kini dibantah ahli waris Victoria Anin, Vidoris Frans Samadara, Yafet Kolloh, Victoria Samadara dan Adriana Samadara.

Dalam konferensi pers di Hotel Sotis Kupang, Minggu (28/3/2021) ahli waris yang didampingi kuasa hukumnya dari Tim Kopi Johny (Hotman Paris), M. Rikardus Joka dan Kores Tambunan mengatakan, berdasarkan silsilah garis lurus keatas, Victoria Anin sebagai ahli waris Konay yang sah.

Victoria Anin merupakan ahli waris Hendrik Konay dari anaknya Bertholomeus Konay yang punya hak hukum menguasai lahan 250 hektare di Pagar Panjang dan tanah Danau Ina seluas 100 hektare yang terletak di Kelurahan Oesapa dan Kelurahan Lasiana, Kota Kupang.

Polemik Kepemilikan Lahan Pagar Panjang-Danau Ina Memanas, Victoria Anin Klaim sebagai Ahli Waris Sah“Hak kepemilikan ahli waris Victoria Anin ini berdasarkan putusan Pengadilan Negeri/Swapradja Kupang Nomor 8 tahun 1951 tanggal 25 Mei 1951 dan disahkan oleh Pengadilan Tinggi/Banding Gubernur Sunda Kecil Bali, dan putusan Nomor 19 Tahun 1952 tanggal 28 Agustus 1952 antara Victoria Anin melawan Bertolomeus Konay, juga putusan MA Nomor 63 K/PDT/1953 tanggal 31 Agustus 1955, unjar kuasa hukum, Rikhardus Joka.

Lanjutnya, bahwa dari pengadilan negeri sampai tingkat kasasi, permohonan Bertolomeus Konay ditolak. Dari garis keturunan, Victoria Anin merupakan keturunan lurus dari Beti Bako Konay.

Sedangkan Bertolomeus Konay (ayah Piter Konay) tidak berhak atas tanah itu.

“Semasa hidup, Victoria Anin selaku pemilik bidang tanah telah mengirim surat kepada Bupati Tingkat II Kupang tertanggal 12 Mei 1985 yang meminta perlindungan hukum atas adanya surat kuasa palsu, yakni surat bukti serah terima tanah warisan dari Victoria Anin kepada Esau Konay (pihak penerima).

Surat kuasa palsu itu dibuat di Oesapa tanggal 19 Maret 1985 yang dibuat sepihak oleh Esau Konay.

Berdasarkan surat kuasa palsu itu, kata dia, Esau Konay menguasai bahkan menjual lahan yang seharusnya menjadi hak Victoria Anin.

Lurah Oesapa waktu itu, Urbanus Laik sudah menarik diri dari saksi dan melakukan klarifikasi tanggal 4 Maret 1993 mengatakan, surat bukti serah terima tanah warisan dibuat oleh Esau Konay bukan dibuat Victoria Anin.

Selama hidupnya, Victoria Anin tidak bertemu dengan Esau Konay dan tidak pernah membubuhi cap jempol pada surat melainkan tanda tangan.

“Surat bukti serah terima itu tidak pernah diketahui oleh lurah/desa setempat,” jelasnya.

Menurut dia, pada tanggal 29 Oktober 1979, Bupati TK II Kupang, Drs. A.A. Adi mengeluarkan surat untuk Victoria Anin yang menyatakan mengembalikan tanah Danau Ina dan Pagar Panjang kepada Victoria Anin, karena tanah itu milik sah Victoria Anin atau ahli waris yang sah menurut hukum dari keturunan Bety Babo Konay dan Johanes Konay.

Dalam point lima surat bupati itu, menyatakan tanah Danau Ina dan Pagar Panjang diklaim oleh Esau Konay dan Piter Konay adalah tidak benar, karena Esau Konay bukan para pihak yang berperkara dalam perkara perdata Nomor 63 K/SIP/1993 tanggal 31 Agustus 1955, dan bukan keturunan Victoria Anin.

Sedangkan, Piter Konay anak dari Bertolomeus Konay sudah dinyatakan kalah dalam perkara perdata No 63 K/SIP/1953.

“Bertolomeus Konay itu anak angkat dan tidak punya hak hukum atas tanah itu. Klaim selama ini menunjukkan mereka tidak menghargai hukum, karena mereka bukan ahli waris Victoria Anin, selama ini ahli waris sah keturunan dari Victoria Anin dizolimi oleh keturunan Esau Konay,” tandas Kuasa Hukum Kopi Jhonny (Hotman Paris)

Setelah menelaah data dan bukti kepemilikan, tim Kopi Johni akhirnya memutuskan untuk siap memberi bantuan hukum.

“Ahli waris Victoria Anin kalah di SDM, selama ini mereka terzolimi, tapi secara hukum mereka berhak. Ada ketidakadilan selama ini terhadap mereka. Karena kamanusiaan, kami dari Tim Kopi Johni siap mengambil kembali hak mereka yang selama ini dirampas,” tegas kuasa hukum, Kores Tambunan.

Menurut dia, Tim Kopi Johni akan bekerjasama dengan Polda NTT untuk segera menertibkan warga yang selama ini mendiami lahan itu.

“Dasar hukumnya jelas. Pengalihan lahan selama ini sangat merugikan ahli waris Victoria Anin,” ujarnya.

Ia juga mengimbau warga yang sudah mendiami lahan itu agar segera mengambil langkah hukum jika ada aksi premanisme dari keturunan Esau Konay.

“Soal status dia (Victoria Anin) sebagai perempuan, yah, kita tidak bisa bicara itu. Karena putusan sudah. Kita kembali ke putusan Nomor 63 K/PDT/tahun 1953. Selama hidupnya, Victoria Anin tidak pernah berperkara dengan Esau Konay dan Minggus Konay,” jelasnya,

Kepada warga yang selama ini mendiami lahan itu agar tidak boleh melakukan transaksi apapun terhadap Marthen Konay yang mengaku sebagai ahli waris.

“Masyarakat yang belum dapat sertifikat segera hubungi ahli waris, Victoria Anin, agar secara perdata bisa ganti rugi dan mendapat haknya yang sebenarnya, tandasnya. (wil)