UTAMA  

Tersambar Petir, Ibu dan Anak di Sumba Barat Tewas

Tersambar Petir, Ibu dan Anak di Sumba Barat Tewas

Waikabubak, penatimor.com – Bencana alam di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali makan korban jiwa.

Seorang ibu dan anak nya di Kabupaten Sumba Barat Provinsi NTT tewas terkena sambaran petir saat keduanya hendak mengangkat pakaian di jemuran.

Peristiwa naas ini terjadi di depan rumah korban di Kampung Puu Kasa, Desa Lingu Lango, Kecamatan Tana Righu, Kabupaten Sumba Barat, Kamis (12/12/2019).

Dua korban meninggal dunia masing-masing Naomi Tamo Ina alias Mama Agus (60) dan anak nya, Yuliana Bulu alias Nona (30), warga kampung Puu Kasa, Desa Lingu Lango, Kecamatan Tana Righu, Kabupaten Sumba Barat.

Saat itu kondisi cuaca mendung dan hendak turun hujan karena sudah mulai rintik-rintik. Ada pula petir dan kilat yang menyambar. Melihat kondisi ini, kedua korban bergegas mengambil pakaian yang dijemur di bawah pohon kelapa di depan rumahnya.

Pada saat mengambil pakaian yang kering di tali jemuran depan rumah mereka, tiba-tiba petir/kilat menyambar kedua korban, mengakibat kedua korban jatuh ke tanah dan langsung meninggal di tempat kejadian perkara.

Kedua korban dievakuasi ke rumah diiringi tangis histeris kerabat korban dan warga sekitar.

Tim medis pun turun melakukan pemeriksaan luar. Korban diperiksa dr Intan Jesica dan perawat Maria D Wanda, AMd Kep.

Hasil pemeriksaan medis dari Puskesmas Malata Kabupaten Sumba Barat oleh tim medis bahwa kedua korban meninggal dunia diakibatkan oleh tersambar petir.

Korban Naomi Tamo Ina alias Mama Agus mengalami kondisi yang memprihatinkan.

Rambut atas bagian atas kepala hangus dan ada lebam di bagian punggung bagian belakang.

Kondisi yang sama dialami Yuliana Bulu alias Nona. Rambut hangus dan ada luka bakar pada bagian punggung kiri bawah.

Aparat keamanan dari Subsektor Tanarighu dibantu anggota polisi Polres Sumba Barat turun ke lokasi kejadian melakukan identifikasi dan olah tempat kejadian perkara. Polisi memasang garis polisi dan meminta keterangan dari kerabat dan warga sekitar sebagai saksi kasus ini.

Keluarga korban pun iklas dan pasrah menerima kematian korban dengan menandatangani surat pernyataan yang diserahkan kepada polisi. Pasca jenasah korban divisum, jenasah langsung diserahkan ke pihak keluarga disertai isak tangis kerabat dan warga sekitar.

Diperoleh pula informasi kalau di kampung korban masih kental dengan mistis dan adat bahwa orang yang bermasalah yang sering menjadi korban disambar petir sejak dahulu.

Kapolres Sumba Barat, AKBP Khairul Saleh, SIK melalui Waka Polres Sumba Barat, Kompol Yulius Ola yang dikonfirmasi, Kamis (12/12/2019) membenarkan adanya peristiwa ini sebagai bencana alam yang merengut korban jiwa.

“Peristiwa nya benar dan sempat ditangani polisi,” tambahnya.

Pihak keluarga korban pun menerima kematian korban namun polisi tetap meminta keterangan dari sejumlah pihak terkait peristiwa ini. (mel)