UTAMA  

Pimpinan Golkar Dituding Otoriter, Begini Respons Melki Laka Lena

Pimpinan Golkar Dituding Otoriter, Begini Respons Melki Laka Lena

Jakarta, penatimor.com – Ketua DPD Golkar Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena angkat bicara menanggapi pernyataan senior Partai Golkar Freddy Latumahina yang menyebut banyak kader Golkar di daerah merasakan dan mengeluh karena pimpinan Golkar tidak komunikatif, bahkan tidak menyediakan ruang dan waktu untuk dialog dengan para kader di sela-sela kunjungan ke daerah.

Melki menilai pernyataan tersebut tidak tepat, termasuk kalimat yang menyebut pimpinan Golkar menunjukkan kecenderungan otoriter dalam mengelola partai sehingga partai berlambang pohon beringin tak maksimal menghadapi Pemilu Legislatif 2019.

“Selaku pimpinan Golkar di daerah, saya merasa perlu menanggapi,” ujar Melki dalam pesan elektronik yang diterima, Sabtu (27/7).

Melki terlebih dahulu menjelaskan bahwa semua ketua umum Golkar pascareformasi berlatar belakang pejabat publik dan profesional di bidangnya. Mulai dari Akbar Tanjung, Jusuf Kalla, Aburizal Bakri, Agung Laksono, Setya Novanto dan Airlangga Hartarto.

Para ketua umum itu juga dinilai memiliki kemampuan dan gaya manejerial sesuai tantangan dan peluang di era kepemimpinan masing-masing.

“Semua ketua umum pascareformasi bekerja dengan tim yang dibentuk dengan segala daya upaya mempertahankan peran Partai Golkar dalam politik nasional,” ucapnya.

Menurut Melki, prestasi terbaik ditorehkan para ketua umum selama ini, sehingga Golkar tetap berada di urutan tiga besar dalam perolehan kursi DPR. Termasuk di Pileg 2019, Golkar tercatat meraih kursi terbanyak kedua setelah PDI Perjuangan.

Padahal, di periode kepemimpinan 2014 – 2019, Golkar menghadapi tantangan besar. Mulai dari dualisme kepemimpinan hingga kasus korupsi mantan ketua umum Golkar Setya Novanto dan mantan sekjen Golkar Idrus Marham.

Menghadapi kondisi yang ada, DPP Golkar di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto, kata Melki, tidak tinggal diam. Terus berupaya memacu semangat para kader dengan terjun langsung ke daerah-daerah.

“Ketum AH beserta jajaran DPP PG bahkan melakukan konsolidasi penutup se-Indonesia Timur di Kupang, NTT. Hadir belasan ribu orang dan menjadi satu–satunya partai di NTT yang melakukan konsolidasi besar bersama ketum DPP partainya,” ucap Melki.

Menurut Melki, Airlangga juga mendorong pengurus DPD untuk mengajak senior Partai Golkar seperti Akbar Tanjung, Aburizal Bakrie dan Agung Laksono turun ke berbagai daerah di NTT, demi menggerakkan kekuatan Golkar.

“Beliau bertiga turun ke NTT. Akbar Tanjung ke perbatasan negara, Atambua-Belu. Aburizal Bakri ke Labuan Bajo, Manggarai Barat dan Agung Laksono ke Waingapu, Sumba Timur memperkuat konsolidasi Golkar se-NTT menghadapi pileg dan pilpres,” katanya.

Demikian juga ketua umum lewat Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Indonesia Timur Melchias Markus Mekeng, membantu memberikan dukungan pada DPD menghadapi Pileg dan Pilpres 2019.

“Selama proses kampanye (enam bulan) beberapa kali ketum memanggil kami para ketua DPD Tingkat I se-Indonesia. Tujuannya untuk berkoordinasi dan membahas perkembangan politik yang harus dihadapi secara bersama. Selanjutnya dikoordinasikan ke pengurus dan keluarga besar Golkar di tingkat kabupaten/kota se-Indonesia,” pungkas Melki. (jim)